Catatan terhadap Cerpen-Cerpen Sawali Tuhusetya *)


Oleh: Kurnia Effendi

Membaca cerpen-cerpen Sawali, saya teringat syarat yang pernah saya terapkan untuk diri sendiri, agar saya “yang lain”, sebagai “pembaca” sebelum pembaca lain, lebih dulu menikmati cerpen itu. Lalu teringat juga pendapat seorang cerpenis jauh sebelum saya, bahwa cerita pendek adalah kisah yang habis dibaca dalam sekali duduk. Namun sebaliknya saya juga mendapatkan pengalaman luar biasa dengan membaca cerpen-cerpen panjang (yang seolah melawan kaidah istilahnya sendiri) karya Budi Darma.

Empat syarat (bisa kurang dan lebih) yang kemudian saya pegang itu adalah sebagai berikut:

  1. Kemampuan berbahasa: syarat utama penulis, agar cukup komunikatif, syukur-syukur mengandung estetika
  2. Logika fiksi: sekalipun fantastik ada “hukum” yang menjaga “kebenaran” kisah
  3. Gaya (meliputi teknik penceritaan, struktur, plot, majas, sudut pandang, karakter atau penokohan, dialog, deskripsi, konflik, dll)  bagaimana mengolah gagasan
  4. Orisinalitas: dewasa ini sangat sulit mencapainya, karena setiap pengarang terdahulu akan memberikan pengaruh kepada kita.

Lagi

Iklan

Diskusi Sastra dan Pembacaan Puisi Karya Dharmadi


Teater Semut Kendal kembali menggelar Diskusi Sastra yang dikemas dalam bentuk pembacaan puisi-puisi karya Dharmadi (penyair dari Purwokerto). Pembacaan puisi akan dilakukan oleh sang penyair dan awak Teater Semut secara teatrekal.

Acara tersebut digelar pada:

hari, tanggal: Minggu, 24 Agustus 2008

pukul: 09.00 WIB s.d. selesai

tempat: Aula Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kab. Kendal, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 62 Kendal

Keterangan:

Kontribusi peserta:

a. Guru sebesar Rp30.000,00 perorang (buku, sertifikat, dan kudapan)

b. Pelajar/Umum sebesar Rp15.000,00 perorang (sertifikat dan kudapan)

Pendaftaran dapat dilakukan via kontak person: 081575463844, 085226251543
Usai pentas baca puisi dilanjutkan dengan Diskusi Sastra yang akan mengupas habis tentang penulisan teks puisi secara kreatif. Acara tersebut jelas akan sangat berarti bagi teman-teman sejawat guru Bahasa Indonesia SMP/MTs Kabupaten Kendal dalam upaya memberikan apresiasi sastra kepada sang pengarang sekaligus sebagai bekal menyajikan materi penulisan puisi secara kreatif kepada siswa didik. Segala hal yang berkaitan dengan masalah penulisan puisi akan dikupas habis-habisan oleh sang penulis. Mohon untuk berkenan hadir. Terima kasih.

Salam Budaya,

Sawali Tuhusetya

Blog Guru


Ini postingan pertama pasca-2007. Tiba-tiba saja saya terusik untuk mengangkat blog guru sebagai topik. Maklum, memasuki liburan semester I ini banyak waktu luang yang bisa saya gunakan untuk memuaskan syahwat hasrat bercinta berselancar dengan kekasih blog saya di dunia maya. *halah* “Kayak ndak ada kerjaan ajah!”, ujar Mas Mbelgedez, hehehehe 😆

Ya, ya, ya, setelah hampir 6 bulan lamanya bersikutat dengan rutinitas di sekolah, para guru diberi kesempatan untuk libur. Mungkin setiap daerah beda-beda, yak. Sudah otonomi kok. Jadi, terserah kebijakan Pemda/Pemkot masing-masing. Untuk daerah saya (Kendal), sekitar 2 minggu, para guru bisa menghirup udara bebas di luar tembok sekolah. *halah* 14 Januari nanti baru kembali mencium aroma silabus, RPP, agenda mengajar, buku teks, daftar nilai, dan setumpuk tugas sampingan lainnya di sekolah.

Lagi

“Wejangan” di “Pertapaan” Cokrokembang


Ketika banyak orang tenggelam dalam kesibukan menyiapkan “pesta” pergantian tahun, 18 “cantrik” dari “Padepokan” STESA (Studi Teater dan Sastra) Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kendal justru “menyepi” di “Pertapaan” Cokrokembang, Desa Mentosari, Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Ke-18 cantrik yang digembleng di bawah kharisma “Resi” Aslam Kussatyo itu mulai “bertapa” sejak Sabtu, 29 Desember hingga Senin, 31 Desember 2007. Ada banyak “jurus” yang hendak diasah dalam “kawah candradimuka” itu, seperti manajemen pertunjukan, imajinasi, refleksi diri, olah tubuh, pernapasan dan vokal, penyutradaraan, keaktoran, make-up, artistik, kepekaan indera, improvisasi gerak dan kata, penciptaan, dan penyajian.

Ya, para “cantrik” itu adalah beberapa gelintir anak muda yang telah berniat memilih dunia sastra dan teater sebagai bagian dari “panggilan” hidup. Sebuah dunia yang (nyaris) tidak banyak diminati oleh anak-anak muda di tengah-tengah gencarnya gerusan nilai materialisme, konsumtivisme, dan hedonisme. Di bawah gemblengan Aslam Kussatyo, dedengkot teater Kota Kendal, mereka sengaja mengisolir diri menjelang pergantian tahun untuk melakukan refleksi, berimajinasi, mengolah daya cipta, dan berlatih jurus-jurus bermain teater.

Lagi

Warni Ingin Pulang


Cerpen: Sawali Tuhusetya

Warni tercenung di kamarnya. Dadanya tiba-tiba sesak. Benaknya jatuh ke tempat yang jauh. Ia rindu Emak, Bapak, dan adik lelaki satu-satunya di tanah Jawa, yang sudah hampir sepuluh tahun ditinggalkannya. Kenekadan Warni untuk menerima tugas sebagai guru di luar Jawa seakan bebar-benar telah memutuskan hubungan darah dengan keluarganya. Ia sudah berkali-kali mencoba mengirim surat ke Jawa, tapi belum pernah sekali pun mendapatkan balasan. Warni tidak tahu, apakah surat yang dikirim memang tidak pernah sampai ke alamat yang dituju atau surat itu sampai ke tangan keluarganya, tapi sengaja tidak dibalas, yang bisa diartikan ia sudah tidak lagi dianggap sebagai anggota keluarga.

“Kamu hanya perempuan, Warni. Buat apa jauh-jauh meninggalkan kampung halaman hanya untuk memburu duit? Tanpa harus bekerja pun ayah sanggup menanggung hidupmu, bahkan sampai kelak kamu hidup berumah tangga!” kata-kata ayahnya menari-nari di lorong ingatannya.

Lagi

Surat Buat Mak di Kampung


Mak, saya tahu kalau Mak nggak mungkin baca surat ini. Selain luput dari sentuhan bebas 3 buta (baca, tulis, dan hitung), di kampung nggak ada internet. Saya juga tahu kalau hari ini Mak sedang bercengkerama dengan alam desa yang masih ramah, belum tercemar limbah dan polusi pabrik. Saya juga tahu kalau Mak belakangan ini lebih banyak duduk di depan kotak ajaib. Menghabiskan siswa waktu di kala anak dan cucumu mengadu nasib di perantauan. Saya juga bisa memahami kalau Mak sedang kesepian. Ingin selalu bersama, hidup dalam satu atap bersama anak, menantu, dan cucu. Tapi apa boleh buat, Mak. Tuhan sudah memiliki skenario kehidupan bagi setiap hamba-Nya. Mohon maaf, Mak, kalau sudah hampir seperempat abad ini, aku tidak lagi bisa mendampingi dan menemani Mak. Tidak bisa seperti ketika Mak menyaksikan kenakalanku waktu SD dan SMP.

Mak, saya jadi ingat ketika Mak harus bersusah-payah mencari pinjaman hutang untuk biaya sekolahku waktu kuliah di sebuah institusi yang disebut-sebut sebagai lembaga pencetak calon guru. Waktu itu, keluarga kita benar-benar sedang hancur. Ayah sakit keras. Tak berdaya melawan virus kelumpuhan yang terus menggorogoti tubuhnya. Hingga sekarang, aku juga tidak tahu, virus apa yang bersarang di tubuhnya, hingga akhirnya Ayah tak kuasa melawannya. Ayah harus berpulang menghadap ke haribaan-Nya. (Semoga Ayah tenang di alam-Nya sana, diterima semua amal baiknya, dan diampuni segala dosanya.) Aku juga tahu kalau Mak saat itu sedang dalam keadaan bingung. Tapi, kalau harus berhenti kuliah, aku juga tidak sanggup melakukannya. Cita-cita untuk memenuhi dunia panggilan sebagai seorang guru sudah merajam darah dan jiwaku. Alhamdulillah, berkat jerih-payah Mak, akhirnya kuliahku selesai juga.

Lagi

Kesetiakawanan Sosial dan Pengorbanan Ismail


Hampir saja lupa kalau tanggal 20 Desember telah ditetapkan sebagai Hari Kesetiakawanan Sosial. Sebuah momen penting yang diabadikan berdasarkan peristiwa bersejarah ketika terjalin kemanunggalan TNI dan rakyat persis sehari setelah agresi militer Belanda, 19 Desember 1948. Kekuatan sipil dan militer “berkolaborasi” ke dalam sebuah aksi patriorik yang terus menjalar dari kampung ke kampung, hingga akhirnya mampu mengenyahkan kekuatan kaum kolonial. Rakyat memberikan apa saja yang mereka punya untuk mendukung militer. Rakyat dari semua golongan turut bertempur, menolong, dan merawat para prajurit yang terbunuh maupun terluka. Sementara itu, kaum militer dengan amat sadar membangun dan mengawal kesetiaan nurani untuk selalu dekat dan mengayomi rakyat.

59 tahun sudah momen historis itu berlalu. Ibu pertiwi telah melahirkan anak-anak bangsa dari generasi ke generasi. Peristiwa demi peristiwa pun terus bergulir membentuk mozaik kehidupan. Seiring dengan itu, masyarakat kita yang dulu begitu kuyup dengan nilai-nilai kesetiakawanan sosial, disadari atau tidak, makin abai, bahkan cenderung cuek terhadap nilai-nilai komunal. Serbuan egoisme dinilai telah menghanguskan kebersamaan dan kesetiaan dalam menjalin komunitas. Bagaimana tidak? Tahu kalau negeri ini masih dihuni oleh jutaan rakyat yang dililit kemelaratan, masih ada juga oknum yang tega menilap Raskin (Beras untuk Rakyat Miskin). Tahu kalau para korban bencana alam amat butuh uluran tangan, ketika bantuan datang, eh, diembat juga. *Aduh!*

Lagi

Previous Older Entries