Di manakah Empati Kita terhadap Sesama?


Belakangan ini praktik kehidupan yang terpampang di atas panggung peradaban makin liar dan buas saja. Praktik kekerasan dan vandalisme (hampir-hampir) menjadi bagian hidup yang tak terpisahkan dalam dinamika perjalanan bangsa ini. Lihat saja di layar TV! Kotak ajaib itu seolah-olah sudah belepotan darah setiap hari. Tawuran antarkampung, perampokan, pencurian, penggusuran, pemerkosaan, dan lain-lain sudah menjadi berita jamak sehari-hari. Becermin dari berbagai kejadian tragis itu, ada sebuah pertanyaan yang mengusik nurani kemanusiaan kita. Benarkah kita telah kehilangan empati terhadap sesama sehingga demikian tega menyakiti dan tak peduli lagi terhadap penderitaan hidup sesama?

Banyak pertanyaan yang bisa dikemukakan, mengapa sikap empati kita terhadap sesama seolah-olah sudah terkikis dari dinding hati dan nurani kita. Seiring dengan merebaknya pola dan gaya hidup materialistis, konsumtif, dan hedonistis, yang melanda masyarakat kita belakangan ini, diakui atau tidak, telah membikin perspektif kita terhadap nilai-nilai kemanusiaan menyempit. Kesibukan berurusan dengan gebyar duniawi, disadari atau tidak, telah membuat kita abai terhadap persoalan esensial yang menyangkut interaksi dan komunikasi sosial terhadap sesama. Jangankan mengurus nasib orang lain, mengurus diri sendiri saja masih payah? Mengapa kita mesti repot-repot merogoh uang recehan untuk gelandangan dan pengemis kalau mencari duwit haram saja sulit? Mengapa kita susah-payah membantu korban kecelakaan lalu lintas kalau pada akhirnya kita mesti repot-repot memberikan kesaksian di depan aparat yang berwenang? Kenapa kita mesti membebani diri mengurus anak-anak telantar dan yatim piatu kalau setiap pagi kita masih kerepotan memberikan uang saku untuk sekolah anak-anak kita?

Di mata dunia, sebenarnya bangsa kita sudah lama dikenal sebagai bangsa yang memiliki peradaban tinggi dengan entitas kesetiakawanan sosial yang kental, tidak tega melihat sesamanya menderita. Kalau toh menderita, “harus” dirasakan bersama dengan tingkat kesadaran nurani yang tulus, bukan sesuatu yang dipaksakan dan direkayasa. Merasa senasib sepenanggungan dalam naungan “payung” kebesaran” religi, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan. ltulah yang membuat bangsa lain menaruh hormat dan respek. Semangat “Tat twan Asi” (Aku adalah Engkau) –meminjam terminologi dalam ajaran Hindu–, telah mampu menahbiskan rasa setia kawan menjelma dan bernaung turba dalam dada bangsa kita, sehingga mampu hidup damai di tengah-tengah masyakarakat multikultur.

Namun, merebaknya “doktrin” konsumtivisme, agaknya telah telanjur menjadi sebuah kelatahan seiring merebaknya pola hidup materialistik dan hedonistis, yang melanda masyarakat modern. Manusia modern, menurut Hembing Wijayakusuma telah melupakan satu dari dua sisi yang membentuk eksistensinya akibat keasyikan pada sisi yang lain. Kemajuan industri telah mengoptimalkan kekuatan mekanismenya, tetapi melemahkan kekuatan rohaninya. Manusia telah melengkapinya dengan alat-alat industri dan ilmu pengetahuan eksperimental dan telah meninggalkan hal-hal positif yang dibutuhkan bagi jiwanya. Akar-akar kerohanian sedang terbakar di tengah api hawa nafsu, keterasingan, kenistaan, dan ketidakseimbangan.

Akibat pemahaman pola hidup yang salah semacam itu, disadari atau tidak, telah melumpuhkan kepekaan nurani dan moral serta religi. Sikap hidup instan telah melenyapkan budaya “proses” dalam mencapai sesuatu. Sikap sabar, tawakal, ulet, telaten, dan cermat, yang merupakan entitas kebersahajaan dan kejujuran telah tersulap menjadi sikap menerabas, pragmatis, dan serba cepat. Orang pun jadi semakin permisif terhadap perbuatan-perbuatan yang tidak jujur di sekitarnya. Budaya suap, kolusi, nepotisme, atau manipulasi anggaran sudah dianggap sebagai hal yang wajar. Untuk mengegolkan ambisi tidak jarang ditempuh dengan cara-cara yang tidak wajar menurut etika.

Kesibukan memburu gebyar materi untuk bisa memanjakan selera dan naluri konsumtifnya, membuat kepedulian terhadap sesama menjadi marginal. Jutaan saudara kita yang masih bergelut dengan lumpur kemiskinan, kelaparan, dan keterbelakangan, luput dari perhatian. Fenomena tersebut jelas mengingkari makna kesetiakawanan sosial yang telah dibangun para founding fathers kita, mengotori kesucian darah jutaan rakyat yang telah menjadi “tumbal” bagi kemakmuran negeri ini.

Sebagai bangsa yang memiliki peradaban tinggi di mata dunia, bagaimanapun harus memiliki good will (kemauan baik) untuk mengondisikan segala bentuk penyimpangan moral, agama, dan kemanusiaan, pada keagungan dan kebenaran etika yang sudah teruji oleh sejarah. Budaya kita pun kaya akan analogi hidup yang bervisi spiritual dan keagamaan. Jika kultur kita yang sarat nilai falsafinya itu kita gali terus, niscaya akan mampu menumbuhkan keharmonisan dan keseimbangan hidup, sehingga mampu mewujudkan paguyuban hidup sosial yang jauh dari sikap hipokrit, arogan, dan bar-bar.

Yang kita perlukan sekarang adalah bagaimana menumbuhsuburkan nilai-nilai empati itu dari generasi ke generasi. Secara naluriah, manusia membutuhkan pengakuan dan pengertian. Kedua kata inilah yang selama ini, disadari atau tidak, telah hilang dalam kamus kehidupan kita. Empati sangat membutuhkan kehadiran dua kosakata indah ini. Merebaknya berbagai praktik kekerasan dan vandalisme pun sebenarnya disebabkan oleh runtuhnya pilar pengakuan dan pengertian tadi. Kita makin tidak intens dalam mengakui keberadaan orang lain dan makin tidak apresiatif untuk mengerti keberadaan orang lain.

Proses penanaman dan pengakaran nilai-nilai empati itu, menurut penafsiran awam saya, perlu dibumikan lewat dunia pendidikan. Di balik tembok sekolah itu jutaan anak bangsa yang kini tengah gencar memburu ilmu perlu diperkenalkan secara intensif tentang makna pengakuan dan pengertian –sebagai pilar sikap empati– dalam kegiatan pembelajaran. Supaya tidak menimbulkan kejenuhan, perlu strategi penanaman dan pengakaran nilai empati yang tepat dan variatif sehingga tidak terjebak pada indoktrinasi seperti orang berkhotbah.

Idealnya proses penanaman dan pengakaran nilai empati itu dilakukan lintas mata pelajaran oleh seluruh guru, bukan hanya menjadi tanggung jawab guru PKn saja. Setiap guru mata pelajaran hendaknya mengaitkan secara kontekstual antara materi yang disajikan dan nilai-nilai empati yang relevan.

Tentu saja, penanaman dan pengakaran nilai empati itu perlu ditindaklanjuti dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Orang tua dan tokoh-tokoh masyarakat perlu memberikan teladan bagaimana menerapkan nilai empati itu kepada sesama. Jika sinergi itu berhasil, saya kira dalam beberapa tahun mendatang negeri ini akan dihuni oleh anak-anak bangsa yang memiliki sikap empati tinggi sehingga selalu memiliki kepekaan terhadap nasib sesama. Imbasnya, praktik kekerasan dan vandalisme yang jelas-jelas telah menodai citra luhur kemanusiaan bisa terkikis hingga ke akar-akarnya. Imbasnya, sesama anak bangsa bisa hidup nyaman dan damai di tengah-tengah lingkungan masyarakat multukultur. Nah, bagaimana? ***

15 Komentar (+add yours?)

  1. enggar
    Sep 25, 2007 @ 23:55:29

    Saya tidak suka jika anak-anak dibiasakan menonton televisi. Saya yakin sekali hampir semua tayangan televisi kita, utamanya sinetron menimbulkan dampak yang buruk terhadap generasi penerus bangsa ini. Kata-kata kotor, teriakan, kekerasan, dll merajai acara-acara televisi. Kalaupun ada tayangan religi, kesannya lebih menakut-nakuti daripada mendidik. Tanpa sadar, anak-anak ini tidak lagi bisa memisahkan antara kenyataan dengan khayalan. Keseharian mereka di sekolah atau di rumah tak ubahnya dengan sandiwara televisi. Dan, jujur saja, berat, sangat berat tugas guru, berusaha menanamkan moral dan nilai-nilai empati ditengah gempuran gaya hidup materialistis yang dicontohkan oleh orang-orang terdekat dan lingkungan mereka sendiri. Namun, tentu saja tidak boleh menyerah, ‘kan?

    Balas

  2. hoek
    Sep 26, 2007 @ 02:47:41

    yah…ngga bisa pertamax…>.<

    Balas

  3. hoek
    Sep 26, 2007 @ 02:54:50

    Jangankan mengurus nasib orang lain, mengurus diri sendiri saja masih payah? Mengapa kita mesti repot-repot merogoh uang recehan untuk gelandangan dan pengemis kalau mencari duwit haram saja sulit? Mengapa kita susah-payah membantu korban kecelakaan lalu lintas kalau pada akhirnya kita mesti repot-repot memberikan kesaksian di depan aparat yang berwenang? Kenapa kita mesti membebani diri mengurus anak-anak telantar dan yatim piatu kalau setiap pagi kita masih kerepotan memberikan uang saku untuk sekolah anak-anak kita?

    *ngliad diri sendiri…* hmm..bener-bener sebuah pertanyaan retoris yang bikin gemas hati nurani tuh pak!

    Di mata dunia, sebenarnya bangsa kita sudah lama dikenal sebagai bangsa yang memiliki peradaban tinggi dengan entitas kesetiakawanan sosial yang kental

    sudah lama juga, entitas itu hilang…*meratap*

    Namun, merebaknya “doktrin” konsumtivisme, agaknya telah telanjur menjadi sebuah kelatahan seiring merebaknya pola hidup materialistik dan hedonistis, yang melanda masyarakat modern.

    hmm..sefertinya ini hasil olah fikir pak sawali terhadap tulisan saia? *GE ER*

    Proses penanaman dan pengakaran nilai-nilai empati itu, menurut penafsiran awam saya, perlu dibumikan lewat dunia pendidikan.

    bener-bener khas pak sawali, tulisannya runtut, sejuk, dan mendidik. uda gitu, selalu ada solusi yang diberikan! salut pak!

    Balas

  4. hoek
    Sep 26, 2007 @ 02:56:29

    *TEREAK-TEREAK LEWAT CORONG*
    SAHURRR…..SAHURRR…………

    *Nabok-nabok kentongan sambil kliling kompleks blogosphere*

    ow iya, skalian hettrix pak!

    *nglanjutin mbangunin orang sahur*

    Balas

  5. hanna
    Sep 26, 2007 @ 06:18:10

    Bapak ini piye toh, email saya tolong di balas ya, pak.
    Hi3.

    Balas

  6. harysmk3
    Sep 26, 2007 @ 15:26:09

    Kita memang tidak bisa mengelak dari globalisme, hedonisme dan budaya konsumtif, dimana pengaruh “kotak ajaib” menjadi sumber utamanya. mgk yg bs kita lakukan adalah membentengi anak dengan agama yang kuat pada setiap anak2 kita.

    Balas

  7. diKO
    Sep 26, 2007 @ 18:24:15

    Tanpa sadar, anak-anak ini tidak lagi bisa memisahkan antara kenyataan dengan khayalan. Keseharian mereka di sekolah atau di rumah tak ubahnya dengan sandiwara televisi. Dan, jujur saja, berat, sangat berat tugas guru, berusaha menanamkan moral dan nilai-nilai empati ditengah gempuran gaya hidup materialistis yang dicontohkan oleh orang-orang terdekat dan lingkungan mereka sendiri. Namun, tentu saja tidak boleh menyerah, ‘kan?

    Namun, tentu saja tidak boleh menyerah, ‘kan?

    Balas

  8. Sawali Tuhusetya
    Sep 26, 2007 @ 20:02:17

    @ enggar:
    Televisi dah masuk pada kapitalisme global, Bu. Orienetasinya hanya sekadar memburu untung dan rating. Tak heran jika banyak tayangan yang menihilkan aspek edukatif kepada para penonton. Butuh filter yang kuat agar anak-anak tak teracuni tayangan semacam itu. Tapi perlukah anak2 antiTV, hehehehe😀

    @ hoek:
    Wah, Mas Hoek memang selalu memandang sesuatu dengan perspektif pikiran yang jernih –ini komen Mas hoek yang serius loh. Tapi kadang2 Mas Hoek juga suka ngelantur, kan?

    *Tertawa sambil membayangkan wajah Mas Hoek tersenyum kecut*

    @ harysmk3:
    Tepat sekali Pak Hary, saya setuju dengan pendapat Sampeyan. Memang diperlukan filter agama dan keimanan yang kuat agar anak2 tak mudah terpengaruh dan teracuni oleh nilai2 global.

    @ diKO:
    Sama dengan komen Bu Enggar.
    OK, trims.

    Balas

  9. mathematicse
    Sep 26, 2007 @ 22:57:34

    Saya tertarik dengan paragraf berikut.

    “Idealnya proses penanaman dan pengakaran nilai empati itu dilakukan lintas mata pelajaran oleh seluruh guru, bukan hanya menjadi tanggung jawab guru PKn saja. Setiap guru mata pelajaran hendaknya mengaitkan secara kontekstual antara materi yang disajikan dan nilai-nilai empati yang relevan.”

    Seringkali antar pelajaran itu seolah-olah terpisah, tak ada keterinetgrasian.

    Bila ada masalah menyangkut prilaku siswa, bisanya saling mengalahkan. Dan untuk masalah ke-empatian, seringkali yang disalahkan adalah guru PKn atau agama, proses pembelajaran yang tidak berhasil katanya. Padahal proses mendidik itu tanggung jawab semua guru (pelajaran. Bener ga yah?😀

    Balas

  10. mathematicse
    Sep 26, 2007 @ 23:45:24

    Ralat. Tertulis “mengalahkan”. Seharusnya “menyalahkan”😀

    Balas

  11. Yari NK
    Sep 27, 2007 @ 07:02:10

    Sebenarnya bulan Ramadhan ini adalah momentum untuk menunjukkan empati kita pada mereka yang “kesusahan”, tetapi lihat orang2 kaya, buka puasa justru di tempat2 restaurant mewah, malah jadi bulan Ramadhan ini untuk sebagian orang malah menjadi ajang ‘pesta pora’ (malah lebih dari bulan-bulan lainnya)berbuka puasa yang ‘mewah2’, yang justru akan menjauhkannya dari nilai-nilai empati dan kemanusiaan.😦

    Balas

  12. sigid
    Sep 27, 2007 @ 12:19:34

    Kesibukan memburu gebyar materi untuk bisa memanjakan selera dan naluri konsumtifnya, membuat kepedulian terhadap sesama menjadi marginal.

    Iya ya, bahkan naluri konsumtif dalam bentuk materi maupun kepuasan jiwa yang keblinger.
    Berebut kekuasaan, jabatan, pujian, kepopuleran dsb😦

    Balas

  13. Sawali Tuhusetya
    Sep 27, 2007 @ 20:20:44

    @ mathematicse
    Pendapat Pak Al-Jupri saya kira tidak salah. Penananam dan pengakaran nilai-nilai luhur hakiki, termasuk nilai empati, idealnya memang perlu dilakukan secara integral. Semua guru mesti ikut bertanggung jawab, tidak hanya diserahkan kepada guru agama atau PKN saja. Bukankah tugas guru bukan hanya mengajar, melainkan juga mendidik?

    @ Yari NK:
    Setuju banget, Bung. Bulan Ramadhan mestinya bisa dijadikan sebagai momentum untuk membangkitkan nilai solidaritas dan empati terhadap sesama, bukan pamer kemewahan yang ujung2nya hanya akan menyakiti kaum dhu’afa.

    @ sigid:
    Ya, itulah kenyataan yang masih berlangsung di negeri ini Pak Sigid. Untuk mengejar ambisi tak jarang orang menghalalkan segala cara yang seringkali tidak sesuai dengan nilai-nilai etika dan kesantunan sosial.

    Balas

  14. Toga
    Sep 27, 2007 @ 22:28:53

    Supaya tidak menimbulkan kejenuhan, perlu strategi penanaman dan pengakaran nilai empati yang tepat dan variatif sehingga tidak terjebak pada indoktrinasi seperti orang berkhotbah.

    Itulah tantangannya, Pak, tidak saja bagi para pendidik, utamanya para pendakwah.

    Tanpa kreativitas, nilai-nilai baik akan semakin sulit kita dorong pertumbuhannya.

    Andai semua pendidik bisa punya paradigma seperti Bapak, mungkin akan jauh lebih mudah ya.

    Balas

  15. jejakkakiku
    Sep 28, 2007 @ 17:22:19

    Blogwalking dan sudah menemukan beberapa orang mulai menuliskan tentang MANUSIA, semoga tulisantulisan seperti ini akan semakin banyak dibaca dan ditulis…

    salam kenal🙂

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: