Catatan Tercecer dari Semiloka Nasional: Peran TIK dalam Revitalisasi Pembelajaran


Kamis, 23 Agustus 2007, bertempat di Hotel Siliwangi, Jln Mgr. Sugijopranoto No. 61, Semarang, digelar seminar dan lokakarya (Semiloka) sehari dengan topik: Peran Tekonologi Informasi dan Komunikasi dalam Revitalisasi Pembelajaran. Semiloka diikuti oleh unsur Kepala/Dinas/Kasubdin P dan K Kabupaten Kota, Pengawas, Kepala Sekolah, Guru, dan Widya Iswara LPMP se-Indonesia (sebanyak 150 peserta). Tampil sebagai pemakalah dalam seminar tersebut adalah Ir. Lilik Gani HA, M.Sc., Ph.D (Kepala Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan Depdiknas), Ir. Indra Djati Sidi, Ph.D (mantan Dirjen Dikdasmen yang kini menjadi Dosen Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB), dan Hartoyo, M.A., Ph.D (Dosen Universitas Negeri Semarang).

3-suasana-semiloka.jpg

Pelaksanaan semiloka dilatarbelakangi PP 19/2005 (pasal 19) tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang berbunyi seperti berikut ini.

Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

Ada beberapa hal yang layak dicatat dari semiloka tersebut. Pertama, semiloka bisa dipandang sebagai reaksi terhadap atmosfer pembelajaran di sekolah selama ini yang dianggap masih jauh dari semangat yang tersirat dalam SNP. Secara jujur harus diakui, proses pembelajaran yang didesain oleh para guru masih mengebiri potensi siswa didik. Alih-alih berlangsung interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik, proses pembelajaran pun tak jarang berlangsung monoton dan membosankan.

Yang lebih memprihatinkan, masih muncul opini di kalangan guru bahwa pembelajaran dikatakan berhasil apabila suasana kelas berlangsung diam alias bisu dan siswa patuh dengan komando. Suasana kelas pun seringkali berubah mirip ruang karantina untuk “mencuci otak” siswa didik. Pembelajaran jauh dari dialog, bercurah pikir, apalagi dialog interaktif. Siswa yang kritis dan sering bertanya justru sering diberi stigma sebagai siswa “ngeyelan” dan cerewet. Siswa ber-“talenta” semacam itu tak jarang memancing adrenalin emosi guru yang tidak siap menjawab pertanyaan siswa. Dengan otoritas yang dimilikinya, guru bak sipir penjara yang tengah mengawasi perilaku narapidana (tengok di sini, di sini, dan di sini).

Kedua, dunia persekolahan kita masih jauh dari sentuhan teknologi informasi dan komunikasi. Memang, sudah banyak sekolah yang telah menjadi clien ICT. Namun, sudahkah para guru memaksimalkan penggunaannya untuk kepentingan pembelajaran? Ini sebuah “penyakit” yang sering kambuh dalam dunia pendidikan kita. “Pintar melakukan pengadaan barang, tapi gagap dalam merawat, memelihara, dan mengoperasikannya”. Nilai gengsi dan prestise lebih diutamakan ketimbang substansi kepentingan dan manfaatnya.

Ketiga, belum ada perubahan paradigma pendidikan dalam dunia persekolahan kita. Meskipun sistem telah berubah, dari sentralistis ke desentralistis, tapi gaya pengelolaan dunia persekolahan kita tak ada bedanya dengan yang dulu-dulu. Kepemimpinan sekolah masih bergaya feodalistis bak borjuis kecil. Para penyelenggara pendidikan yang seharusnya melayani, tetapi justru minta dilayani. Praktik pendidikan pun masih selalu menunggu petunjuk dari atas; miskin kreativitas dan inovasi. Sekolah banyak mendapatkan droping peralatan dan fasilitas, tapi mereka tidak pernah mau belajar bagaimana cara menggunakannya. Tidak heran apabila subsidi perangkat televisi yang seharusnya sudah dimanfaatkan mengakses siaran TV-Education, masih banyak yang “ndongkrok”, bahkan masih terbungkus rapi.

2-suasana-semiloka.jpgKeempat, pemberdayaan profesionalisme guru yang masih “jalan di tempat”. Kini, era digital sudah merasuki lorong-lorong kehidupan masyarakat di negeri ini. Dunia maya mampu menyajikan berbagai informasi terbaru, menarik, dan aktual. Namun, sudah banyakkah rekan-rekan guru di negeri ini yang telah mencoba mengaksesnya untuk kepentingan pembelajaran? Dalam hal mengakses informasi, guru tak jarang “kalah bersaing” dengan murid-muridnya. “Siswa didiknya sudah melaju mulus di atas jalan tol, tetapi sang guru masih bersikutat di balik semak belukar”.Mereka sudah biasa mengakses internet, baik milik orang tuanya maupun warnet, dan sudah begitu akrab dengan istilah-istilah dasar “ngenet”, seperti browsing, search engine, e-mail, atau chatting. Oleh karena itu, sungguh pandangan yang keliru kalau pada abad gelombang informasi seperti sekarang ini masih ada seorang guru yang masih memosisikan dirinya sebagai satu-satunya sumber belajar.

Menurut hemat saya, TIK bisa dimanfaatkan secara optimal untuk kepentingan pembelajaran apabila para guru yang berdiri di garda depan dalam dunia pendidikan kita tidak “gaptek”. Minimal, mereka bisa mengoperasikannya sehingga siswa didik bisa “menikmati” media pembelajaran dengan segenap emosi dan pikirannya. Sebuah kesia-siaan apabila sekolah “dimanja” dengan berbagai piranti teknologi mutakhir, tetapi mereka tak sanggup memanfaatkannya secara maksimal.

Sebagai “agen perubahan dan peradaban” dunia persekolahan kita tampaknya memang harus sudah mulai mengakrabi TIK. Di kelaslah “ruh kurikulum” berada. Dalam benak saya terbersit bayangan, di sekolah yang telah memanfaatkan TIK untuk merevitalisasi pembelajaran, ada sebuah moving class, yang bisa dimanfaatkan secara bergiliran –sesuai jadwal– oleh guru dari berbagai mata pelajaran. Di klas itu sudah tersedia komputer (PC atau notebook) online, LCD, scanner, printer, dan berbagai software pembelajaran yang menarik dan memikat perhatian siswa didik. Dengan terampil, sang guru akan mengemas pembelajarannya melalui berbagai tayangan media yang menarik, sehingga mampu menggugah emosi dan pikiran siswa untuk bersikap kreatif, penuh inistatif, dan kritis. Dengan demikian, pembelajaran betul-betul berlangsung secara aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Ini artinya, setiap guru, mau atau tidak, harus siap menyongsong “era baru” melalui pemanfaatan TIK dalam kegiatan pembelajaran. Alasan “tidak bisa”, “tidak berbakat” perlu dikubur dalam-dalam karena siapa pun bisa menggunakan TIK asalkan mau belajar dan tidak malu bertanya.

Kalau memang Semiloka itu dimaksudkan untuk menciptakan atmosfer baru dalam dunia pembelajaran di sekolah, harus ada upaya serius untuk memberdayakan guru agar mereka tidak “gaptek” lagi dalam memanfaatkan TIK untuk kepentingan pembelajaran. Jika tidak ada upaya serius dan intensif, disadari atau tidak, pemanfaatan TIK dalam pembelajaran hanya akan terapung-apung dalam bentangan slogan dan retorika belaka. Nah, bagaimana? ***

Iklan

7 Komentar (+add yours?)

  1. hanna
    Agu 23, 2007 @ 22:07:12

    Sarana dan prasarana untuk perkembangan TIK diperlukan,misalnya laboratorium khusus.
    Tapi perlu diwaspadi juga penyakit Internet Addictive Disorder(IAD). Katanya nih,di negeri China kesulitan menanggulangi lajunya perkembangan penyakit ini.HE HE…

    ————————
    Oh, ada memang penyakit IAD itu, ya, Mbak. Saya juga sering bertamu ke blog Mbak Hanna, lho. Sayangnya setiap mau bikin komentar loadingnya lama. Itu kelemahan di blogspot. Dulu aku pernah punya http://jalan-mendaki.blogspot.com/ tapi kini dah jarang kuurus 😀
    *Hanya bercanda lho, Mbak*

    Balas

  2. mathematicse
    Agu 24, 2007 @ 17:18:37

    Andaikan semangat SNP itu dibarengi dengan kemampuan guru yang baik, saya yakin semangat itu akan tercapai. Tapi, karena guru-guru kita masih terbiasa dengan kondisi lama, tampaknya semangat ini masih jauh di atas awan. Agak sukar menggapainya.

    Oh, iya. Tentang keadaan pembelajaran dengan kelas yang diam, dianggap berhasil oleh guru, ternyata terjadi di mana-man ya? Dulu, sewaktu saya SMP dan SMA, saya banyak bertanya, eh rupanya ada guru yang tak siap, jadinya saya engga enak sendiri. Pernah saya bertanya, untuk mengklarifikasi sesuatu, rupanya guru tidak tahu (saya dianggap menguji beliau, dipanggil, dan saya minta maaf). Duh, inget terus jadinya.

    Bahkan sewaktu kuliah pun, ketika saya mengusulkan cara lain, alternatrif dalam menyelesaikan masalah, (ada) sang dosen rupanya tak siap, beliau masih konsisten dengan caranya, yang begitu-begitu saja. Alhasil saya diminta jangan banyak bicara, diam saja, jangan terlalu banyak komentar (untung yang kayak gini tidaklah banyak di PT).

    Terus, mengenai paradigma di sekolah, secara teoritis, memang sistem berubah, tapi praktik di lapangan masih mewarisi jaman kuno (jadul = jaman dulu). Ini sepertinya masih tersebar di mana-mana, di negeri kita. Sayang!
    Oh, iya lagi. Mengenai penggunaan kata dalam bahasa Indonesia (boleh ya, Pak?)

    Kelas = klas?
    Bersikutat = berkutat =…?

    Boleh lanjut koment ya, Pak?

    Kenapa ya, biasanya semiloka itu bagi guru hanya sebatas untuk mendapat sertifikat. Saya sering mendengar celotehan “di belakang” pas acara beginian, katanya yang penting itu sertifikatnya, masalah materi dan sebagainya itu, tergantung kita (guru) di sekolah. Mendengar hal ini, saya cuma bisa senyum-senyum. Mengiyakan tidak, menidakkan juga belum berani (nanti salah-salah dianggap terlalu idealis).

    Ya sudah, segitu saja komentarnya, mudah-mudahan tidak merepotkan bagi yang punya blog. (Alhamdulillah, unek-unek di pikiran saya, tertumpahkan lewat komentar ini). 😀

    —————-
    1. Meskipun SNP dah lama diundangkan, banyak teman guru di Indonesia yang belum membacanya, apalagi memahaminya. Semangat untuk berubah pun tampaknya juga belum tumbuh. Akibatnya, situasi statusquo dan established masih sangat menjadi warna dominan dalam dunia persekolahan di negeri kita.

    2. Itulah risikonya kalau guru tidak siap mengajar. Seringkali pertanyaan anak-anak yang kritis dianggap sedang mengetes atau menguji kemampuan sang guru. Tak aneh apabila murid-murid yang kritis di negeri kita makin lama makin berkurang akibat “dibunuh” oleh guru yang sering memosisikan dirinya sebagai satu-satunya sumber belajar. Pak Al-Jupri pernah mengalaminya juga, kan? Betapa kuatnya memori seorang siswa ketika sedang mendapatkan perlakuan “khusus” dari sang guru.

    3. Pemerintah pusat sebenarnya sudah melepaskan sebagian wewenangnya ke daerah melalui proses desentralisasi, termasuk otonomi daerah. Tapi, perubahan kultural ini yang butuh waktu amat lama. Banyak pejabat di daerah yang masih miskin inisiatif untuk melakukan perubahan dan masih saja bergantung pada petunjuk atasan.

    4. Penggunaan kata “kelas” atau “klas” sama-sama benarnya, Pak. Hanya saja harus konsisten dalam sebuah teks (wacana). Kalau menggunakan kata “klas” sebaiknya dalam sebuah teks harus konsisten, demikian juga sebaliknya. “Berkutat” pun sama dengan “bersikutat”. Bedanya hanya pada nuansa makna yang ditumbulkannya. “Bersikutat” mengandung nuansa makna intensitas (menyangatkan) dan resiprokal (kesalingan).

    5. Boleh, Pak. Saya sangat senang bisa sharing pengalaman dengan Pak Al-Jupri. Meski di Holland, Pak Al-Jupri nggak kehilangan identitas keindonesiaannya. Ramah dan santun :D.

    6. Fenomena yang sering muncul dalam acara penataran, diklat, atau seminar, biasanya seperti itu, Pak. Hanya sebagian kecil saja yang serius untuk mengikuti kegiatan dengan baik. Itulah sebabnya, banyak orang yang mengatakan bahwa kegiatan-kegiatan semacam itu hanya menghabiskan anggaran saja 😀 Tapi sebenarnya kegiatan semacam itu masih ada manfaatnya, terutama info2 baru yang berkaitan dengan tema yang diangkat.

    Terima kasih, Pak. Mudah2an coment balik ini tidak memuaskan Bapak 😀 Kalau nggak puas, dengan sendirinya Bapak kan terus berupaya untuk terus melakukan pencarian 😀

    Balas

  3. mathematicse
    Agu 25, 2007 @ 06:06:40

    Hahaha…, terimakasih, Pak, atas koment baliknya. Saya senang bisa berdiskusi + bertanya ke bapak, yang sudah berpengalaman ini. 😀

    ———————–
    Wah, Pak Al-Jupri senangnya terlalu berlebihan, lho. Biasa saja kok. Ok, trims kembali.

    Balas

  4. supardi
    Agu 28, 2007 @ 20:00:28

    Komentar saya singkat
    TIK sudah memasyarakat di dunia pendidikan. Tetapi hanya sebatas “menulis, menghitung dan membaca” belum dioptimalkan sebagai sentral pembelajaran. Mungkin masalah klasik yang mendasar . – biaya; – SDM dan kurang yang lain.. he….

    Balas

  5. supardi
    Agu 28, 2007 @ 20:04:55

    Kepada Yth:
    Pak Guru yang budiman

    Mohon bantuan untuk dikirimi atau mungkin menginfakkan naskah kepada saya berkaitan dengan penggunaan metode cerita legenda masyarakat lokal berkaitan dengan penanaman nilai-nilai luhur. Terima kasih atas bantuannya.

    Salam hormat

    dari teman baru >lama

    Balas

  6. Sawali Tuhusetya
    Agu 28, 2007 @ 20:21:40

    Wah, saudaraku yang budiman juga. TIK belum banyak dimanfaatkan mungkin lantaran gurunya masih “gaptek”, hehehehe 😀 Belum tahu caranya.
    Tentang cerita legenda masyarakat lokal, wah, sayang sekali saya nggak punya arsipnya. Paling2 yang dimuat di tabloit anak. Itu pun jumlahnya tak seberapa.
    Ok, trims kunjungannya, salam.

    Balas

  7. Entis Sutisna
    Nov 16, 2008 @ 19:59:16

    TIK memang menarik untuk dioptimalkan dalam pendidikan, tapi susah dan mahal.
    Salam kenal

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: