Sastra dan Anomali Sosial Generasi Muda Masa Kini


Saya tersentak ketika membaca sebuah berita seperti ini.

INDRAMAYU (Pos Kota) – Beredarnya video mesum yang diperankan sepasang pelajar SMA di Indramayu, membuat gerah Bupati Indramayu dan pejabat muspida lainnya. Bupati H Irianto MS Syarifudin lalu bikin gebrakan akan memeriksa keperawanan sekitar 3.500 siswi SMP dan SMA atau sederajat di seluruh Indramayu.
“Pemeriksaan bertujuan memberitahukan orangtua siswa soal status keperawanan anak gadisnya,” ujar Bupati Indramayu H Irianto MS Syarifudin di sela-sela pembakaran 2.600 buku sejarah di Kantor Kejari Indramayu, Selasa (14/8). Jika hasil pemeriksaan medis diketahui terdapat siswi SMP/Mts dan SMA/SMK/MA tidak perawan lagi atau kegadisannya sudah hilang, maka orangtuanya akan dipanggil sekolah.
“Orangtuanya akan diingatkan untuk lebih waspada dalam mendidik putrinya sehingga jangan hanya bisa menyalahkan sekolah atau gurunya saja,” kata Bupati Irianto MS Syarifudin.

Sementara itu, berita dari kota Gudeg Yogyakarta juga tak kalah menyentakkan.

Sutradara Upi Avianto mengaku tercengang membaca hasil survei terhadap sejumlah remaja Yogyakarta yang dilakukan dalam rangka penggarapan film antologi empat sutradara perempuan, “Lotus Requiem”. Survei itu mengungkap pandangan dan perilaku seks remaja di Yogyakarta, yang menurut Upi, telah jauh melewati batas.

“Rasanya seperti ditampar sewaktu membaca hasil survei itu,” kata Upi, di Jakarta, akhir pekan lalu. Upi mencontohkan anak-anak muda itu bukan hanya telah terbiasa melakukan seks bebas, mereka bahkan telah lihai dan mempunyai cara tersendiri menyelesaikan masalah-masalah yang ditimbulkan akibat seks bebas.

kenakalan-remaja.jpgMeskipun bukan berita baru, maraknya kasus seks bebas yang melanda generasi muda makin menguatkan bukti bahwa nilai-nilai kesalehan hidup, baik pribadi maupun sosial, sudah gagal terapresiasi dan terinternalisasi oleh kaum muda kita. Bahkan, perilaku generasi muda kita sudah mengarah pada proses pembusukan sosial. Kaum muda kita sudah terjangkiti “virus” anomali sosial yang ditandai dengan merajalelanya perilaku-perilaku sosial yang menyimpang, seperti tawuran, tingkah vandalistis, dan berbagai ulah kekerasan lainnya.

Adakah yang salah dalam proses pendewasaan generasi muda kita sehingga mereka begitu rentan terhadap berbagai perilaku anomali sosial dan mengalami proses involusi budaya? Siapakah yang mesti bertanggung jawab?

Pertanyaan semacam itu bukanlah persoalan yang mudah untuk dijawab. Rumit dan kompleks. Ada banyak faktor yang saling berkelindan sehingga kaum muda kita menjadi demikian jauh terseret dalam kubangan proses pembusukan dan anomali sosial.

Pertama, seiring dengan berkibarnya bendera materialisme, konsumtivisme, dan hedonisme, orang tua seringkali disibukkan oleh berbagai persoalan memburu gebyar duniawi sehingga abai terhadap pendidikan sang anak. Orang tua seringkali hanya memosisikan diri secara biologis semata, sedangkan upaya penanaman nilai-nilai luhur baku diserahkan sepenuhnya kepada insitusi pendidikan.

Kedua, seiring dengan makin terbukanya masyarakat kita terhadap berbagai perubahan pola dan gaya hidup, masyarakat makin permisif dan membiarkan berbagai perilaku menyimpang berlangsung telanjang di depan mata. Masyarakat yang diharapkan mampu menjadi kekuatan kontrol terhadap berbagai perilaku kriminal dan premanisme menjadi abai, apatis, dan masa bodoh. Tak heran jika perilaku seks bebas, kriminal, premanisme, pemalakan, dan semacamnya sudah dianggap sebagai hal yang lumrah terjadi di tengah-tengah masyarakat kita.

Ketiga, mandulnya dunia pendidikan kita dalam melahirkan keluaran pendidikan yang bermoral, beradab, dan berbudaya. Secara jujur mesti diakui, bertahun-tahun lamanya dunia pendidikan kita terpasung di atas tungku kekuasaan rezim penguasa yang korup. Semua keluaran pendidikan didesain untuk mengabdi dan tunduk pada kepentingan penguasa. Mereka dididik untuk menjadi robot-robot peradaban yang mesti tunduk pada “remote control” yang dikendalikan oleh penguasa. Sementara itu, para guru ditampung dan ditempatkan di dalam “rumah kaca” yang gampang dikontrol dan dikendalikan. Mereka yang tidak taat komando langsung kena semprit dan dihambat kariernya.

Pendidikan Agama dan PPKn yang idealnya mampu “mencerahkan” jiwa dan rohani siswa didik pun dinilai telah gagal dalam menaburkan nilai-nilai luhur hakiki. Pembelajaran lebih bersifat dogmatis dan penuh indoktrinasi seperti orang berkhotbah. Siswa tidak didik untuk menjadi kritis, tetapi di-drill seperti pelatihan binatang dalam sirkus.

Yang lebih memprihatinkan, para pelajar masa kini makin jauh bersentuhan dengan buku-buku sastra. Taufiq Ismail pernah melakukan survei sederhana, yakni dengan mewawancarai tamatan SMU dari 13 negara. Apa yang dilakukan Taufiq hanya semacam snapshot, potret sesaat, untuk menangkap gejala yang muncul ke permukaan. Pertanyaan diarahkan pada persoalan seputar kewajiban membaca buku sastra, bimbingan menulis, dan pengajaran sastra di SMU tempat mereka belajar. Hasilnya? Jika siswa SMU di Amerika Serikat menghabiskan 32 judul buku selama tiga tahun, sementara di Jepang dan Swiss 15 buku, serta siswa SMU di negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Thailand dan Brunei Darussalam menamatkan membaca 5-7 judul buku sastra, siswa SMU di Indonesia-setelah era AMS Hindia Belanda-adalah nol buku. Padahal, pada era Algemeene Middelbare School (AMS) Hindia Belanda, selama belajar di sana siswa diwajibkan membaca 15-25 judul buku sastra.

Sedemikian parahkah minat baca kaum muda kita terhadap buku-buku sastra hingga mereka tak pernah bersentuhan dengan buku-buku sastra meski bertahun-tahun menuntut ilmu di bangku pendidikan? Apakah fenomena ini merupakan potret gagalnya pengajaran apresiasi sastra di sekolah?

Ya, setelah masyarakat gagal menjadi kekuatan kontrol terhadap meruyaknya berbagai perilaku seks bebas, permanisme, dan kriminalitas, institusi pendidikan idealnya mampu menjalankan fungsinya sebagai benteng terakhir terhadap serbuan segala macam bentuk pembusukan dan anomali sosial. Namun, tampaknya institusi pendidikan kita pun dinilai telah gagal menjalankan fungsinya dengan baik. Pengajaran sastra yang seharusnya lebih banyak mengajak siswa didik untuk mengapresiasi teks-teks sastra, ruang-ruang kelas pun telah berubah menjadi ruang untuk menghafalkan teori sastra dan nama-nama pengarang. Para siswa tidak pernah diajak untuk “menikmati” keindahan dan keagungan nilai luhur yang tersirat dalam teks sastra.

Dalam kondisi pengajaran sastra yang semacam itu, bagaimana mungkin siswa bisa terlatih memiliki kepekaan terhadap segala macam nilai luhur hakiki? Padahal, di dalam teks sastra terdapat banyak kandungan “gizi batin” yang mampu menjadi santapan rohaniah anak-anak bangsa negeri ini sehingga bisa menjadi media “katharsis” dan pencerah peradaban. Bisa jadi, kaum muda kita yang doyan mengumbar selera purba dan nafsu-nafsu primitif, seperti seks bebas, pesta pil setan, tawuran, dan ulah-ulah tak terpuji lainnya itu lantaran mereka tak pernah membaca karya sastra. Demikian yang pernah dilontarkan oleh sastrawan Danarto beberapa tahun yang silam.

Kini, sudah saatnya ada upaya serius untuk membumikan karya-karya sastra di segenap lapis dan lini kehidupan masyarakat. Perpustakaan sekolah dan umum yang menjadi “pusat peradaban” dan “jantung” ilmu pengetahuan perlu direvitalisasi dan dihidupkan dengan menyediakan buku-buku ilmu pengetahuan dan buku-buku sastra berkualitas bagus. Jangan sampai terjadi anak-anak bangsa negeri ini telanjur “rabun” sastra dan “pincang” menulis yang bisa menyebabkan mereka jadi kehilangan kepekaan terhadap berbagai macam persoalan yang dihadapi masyarakat dan bangsanya. Dengan kata lain, perilaku seks bebas dan maraknya ulah premanisme yang melanda kehidupan kaum muda kita bisa diminimalkan apabila mereka akrab bersentuhan dengan buku-buku ilmu pengetahuan dan karya sastra berkualitas bagus. Nah, bagaimana? ***

———————————–
Link terkait:

 

11 Komentar (+add yours?)

  1. deKing
    Agu 18, 2007 @ 19:50:22

    Dan sepertinya juga sastra kita sudah mulai tersentuh upaya komersialisasi.

    Pesan moral (yang seharusnya disampaikan lewat sastra) sepertinya sudah mulai sedikit tersaingi (semoga tidak sampai terpinggirkan) oleh materialisme.

    —————
    Ya, begitulah, Pak, agaknya masyarakat kita lebih mengagungkan budaya populer ketimbang budaya adiluhung. Akibatnya pun bisa ditebak, sastra tak tahan godaan. Banyak pula sastrawan yang akhirnya beralih menekuni sastra pop. Memang nggak salah, sih, tapi dampaknya juga berimbas pada generasi “sakini” yang abai terhadap persoalan-persoalan luhur hakiki.

    Balas

  2. mathematicse
    Agu 18, 2007 @ 23:54:35

    Waduh saya berarti termasuk lulusan SMA yang membaca “nol” buku sastra (lulus SMU tahun 2000). Selama belajar bahasa Indonesia, saya cuma dijejali dengan nama-nama pengarang dan judul karya sastranya. Contohnya, “Tenggelamnya Kapal Van der Wijk karya Hamka (?), Salah asuhan karya Abdul Muis, Robohnya Surau Kami (Aa Navis), dll. (Saya dulu cuma hafal nama pengarang dan judulnya saja, karena itu tuntutannya).

    Andai tuntutannya adalah membaca karya sastra dan menikmatinya, mungkin ceritanya akan lain. Saya tak akan seperti sekarang ini (kurang dalam hal perbendaharaan kosa kata, kata-katanya kaku dan kurang puitis, dan nyaris tak ber”seni”).
    Oh iya, kalau novel-novel (seks) pop yang laris manis tanjung kimpul itu termasuk karya sastra bukan Pak? Contohnya (novel jadul = jaman dulu, kalau tak salah penulisnya Freddy S (?)).

    Jangan-jangan siswi-siswi SMP atau SMA yang sudah tak gadis lagi itu terinspirasi berbuat sesuatu yang tak diinginkan, karena banyak membaca novel-novel “begituan”, ah ga tahu deh saya…

    —————
    Hasil survei Taufiq Ismail konon begitu, Pak. Tapi menurut hemat saya tak semuanya begitu. Meski pembelajaran sastranya amburadul, ada juga pelajar kita yang belajar otodidak dan banyak membaca karya sastra. Saya kira Pak Al-Jupri termasuk di dalamnya. Saya baca tulisan Bapak bagus, kok. Saya senang membacanya, terutama cerita-cerita menarik yang kontekstual dengan pembelajaran Matematika. Tak semua penulis bisa melakukannya seperti Pak Al-Jupri.
    Oh, iya. mengapa novel-novel pop larisnya bukan main seperti kacang goreng saja. Ya, lantaran baru sebatas itu apresiasi masyarakat kita terhadap sastra. Mereka lebih suka menggandrungi karya-karya pop ketimbang karya sastranya. Persoalannya, apakah kaum muda kita yang melakukan seks bebas itu dipengaruhi oleh menjamurnya sastra pop. Tak mudah menjawabnya, Pak. Ada banyak faktor yang memengaruhinya. Oke, Pak, salam, trims.

    Balas

  3. Yari NK
    Agu 19, 2007 @ 07:04:21

    Saya mau tanya nih Pak! Sebenarnya ada nggak sih, apakah budaya pop selalu identik dengan sesuatu yang dari ‘luar’? Apakah kita sendiri tidak bisa menciptakan seusatu yang ‘pop’ yang bersumber dari ‘khayalan’ kita sendiri.
    Masalahnya begini Pak, sekarang kan udah zamannya laser, komputer, satelit dsb., kalau generasi muda kita, misalnya, hanya mengenal gatotkaca, terus arjuna dsb., yang hanya terus-terusan memakai panah, apakah tidak mematikan daya imajinasi dan daya kreativitas generasi muda? Bukan berarti warisan nenek moyang kita itu tidak baik, bukan begitu maksud saya pak. Hanya saja memang kita sebagai manusia yang kreatif tentu memerlukan sesuatu yang baru yang berguna untuk perkembangan kebudayaan kita juga. Tetapi memang saya akui, bahwa budaya pop kita memang hanya meniru dan kurang kreativitas dan tidak bisa menyesuaikan diri dengan keadaan masyarakat kita. Jadinya ya begitu! sedikit norak!😀
    Bukan begitu, pak?

    ————————–
    Ok, Bung Yari, setuju banget. Persoalannya, budaya pop ini sangat erat kaitannya dengan tingkat apresiasi masyarakat kita terhadap budaya kita sendiri. Menjamurnya budaya pop menunjukkan bahwa apresiasi masyarakat kita, khususnya generasi muda, terhadap budaya “adiluhung” memang sangat kurang. Untuk mendekatkan apresiasi generasi muda terhadap budaya sendiri saya kira bisa kita “kawin”-kan dengan budaya pop. Jadi, tak perlu lagi dikotomi antara budaya pop dan budaya “adiluhung”.

    Balas

  4. atmo4th
    Agu 19, 2007 @ 14:07:32

    Sebenarnya kalau budaya kita bias dikemas dan digabungkan dalam sesuatu hal yang baru, kita bisa kembali membangkitkan minat pemuda terhadap hal-hal yang dianggap kuno “gatotkaca dll.”..

    Misalnya aja film Troy, itu sudah terjadi lamaa banget, tapi waktu dikemas dalam bentuk yang modern, sejarah pun menjadi menarik.

    Kalau kita bisa mengemas misalnya perang diponegoro, dengan kisah heroiknya dalam suatu film yang mendidik, kan siswa SMA [ misalnya ] akan lebih tertarik mempelajari sejarah..

    Kalo masalah keperawanan, *no comment

    ————————
    Setuju banget, Bung. Memang perlu ada pembaharuan dan modifikasi seni dan budaya klasik kita. Perlu ada kemasan yang modern dan menarik sehingga budaya klasik kita bisa lebih dekat dan diakrabi oleh generasi muda kita. Jika tak ada pembaharuan dan modifikasi agaknya budaya kita akan makin terpinggirkan.

    Balas

  5. hanna
    Agu 19, 2007 @ 15:37:01

    Itulah lemahnya bangsa kita,Suka ikut yang ngetrend lebih cenderung kebarat-baratan.Ga usah jauh-jauh deh, rambut aja sudah banyak yang berubah pirang tu, ha ha ha.
    Kecanggihan teknolgi sangat berpengaruh dengan kebudayaan kita.Komputer, internet ,hp ,vcd ialah sarana yang mudah tuk mengakses pornografi.Jadi para remaja putri kita retan tercemari.Yang paling mengecewakan bila ada penulis yang ikut-ikutan menulis buku porno.Buku yang bisa membejatkan kawula remaja.

    nb:Pak, saya lagi nulis tentang china dan cina.Berhubung bapak adalah guru bahasa indonesia dengan kerendahan hati saya ingin tau apa komentar bapak tentang ini.kira sudinya bapak baca sekilas diblog saya tentang yang ini.Trim’s sebelumnya.

    ———————
    Nah, memang begitulah! Ok, nanti saya kunjungi.

    Balas

  6. Majalah "Dewa Dewi"
    Agu 19, 2007 @ 15:50:53

    Gejala ini akan berulang terus. Ini yang patut dicari penyebabnya.

    —————-
    Setuju banget. Dicari penyebabnya sekaligus solusinya. Ok, makasaih kunjugannnya.

    Balas

  7. SQ
    Agu 19, 2007 @ 16:48:30

    saya setuju dengan beberapa pendapat di atas, karya sastra kita perlu di re ‘cycle’ atau dibuat lebih modern, contohnya kita perlu belajar lebih banyak dari bangsa jepang yang mampu mengolah sejarah mereka hingga diminati banyak masyarakat kita.

    film-film seperti samurai X atau komik-komik ‘mangga’ sering menjadi favorit, tidak heran anak-anak jadi lebih tahu tentang musashi miyamoto, kisah tiga negara ataupun restorasi meiji, padahal itu bukan sejarah kita?

    tapi tentu peneluran modifikasi belum cukup, perlu juga ditanamkan sifat bangga terhadap daerah dan bangsa sendiri, karena biar sebagus apapun bangsa kita memperjuangkan sastra sendiri, tidak akan ada gunanya bila kita tidak menghargai diri sendiri.

    Siapa lagi yang menghargai bangsa ini kecuali bangsa kita sendiri, sama seperti daerah dan tulisan, sejelek apapun toh, tetap punya kita. Yang perlu diusahakan, adalah belajar bagaimana supaya lebih baik. Gimana pak ? maaf bila kebanyakan komen nya..he..he..he

    ———————
    Betul and tepat sekali. Aku setuju itu. Thanks, ya?

    Balas

  8. hanna
    Agu 19, 2007 @ 18:32:39

    Terima kasih pak atas kunjungan dan komentarnya. Ralat dikit tulisan itu postingan teman saya .ketika dia memberi komen diblog saya dengan memakai kata cina diprotes sama saya. Lalu lahirlah tulisan itu.Bagi kami memang beda.Saya hanya penasaran apakah di dalam bahasa indonesia ada perbedaan di antara ke2nya.

    —————
    Yang saya tahu nih, Mbak Hanna, berdasarkan kaidah penulisan unsur serapan, “Ch” yang lafalnya “c” penulisannya menjadi “c”, sehingga kata “China” ditulis menjadi “Cina”. Tapi, kan seperti yang dikatakan dalam psotingan Mbak Hanna, kaidah penulisan kan juga perlu mempertimbangkan unsur sosiokultural penutur bahasa yang bersangkutan. Ok, salam.

    Balas

  9. alex
    Agu 20, 2007 @ 09:44:28

    Out of topic.

    Blog saya pindah. Yang kemarin ancur deh karena import2 xml-nya…😦

    *mudah2an ndak dicap SPAM😛 *

    ——————-
    Ok, Bung Alex. URL-nya dah saya ganti. Makasih infonya. Kemarin malam saya dah lacak harian Aceh, sayang saya nggak menemukan tulisan saya. Apa memang saya yang gaptek, ya?

    Balas

  10. alex
    Agu 20, 2007 @ 11:33:06

    Ok, Bung Alex. URL-nya dah saya ganti. Makasih infonya. Kemarin malam saya dah lacak harian Aceh, sayang saya nggak menemukan tulisan saya. Apa memang saya yang gaptek, ya?

    Memang tidak dimuat di situsnya, ataukah memang sudah dihapus, saya tidak tahu pasti. Tapi saya akan usahakan scan edisi cetaknya, sekalian dengan tanggal penerbitan. Seingat saya, sudah tiga kali terbitnya tulisan di sini di media tersebut.

    Kita sama-sama penulis, Bung. Dan siapapun orangnya, saya agak keberatan pencomotan seenaknya, terlebih demi oplah atau tujuan komersil.
    Oke, terimakasih atas kemaklumannya. Maaf, sudah merepotkan🙂

    —————
    Wah, makasih banget, Bung. Malah jadi merepotkan, nih. Salut buat Bung Alex, demi melakukan apologi sesama penulis rela melakukan apa saja. Sekali lagi, trims, Bung.

    Balas

  11. caplang™
    Agu 20, 2007 @ 17:59:43

    kalo menurut saya sih, minat baca masyarakat Indonesia terutama anak-anak sekarang makin tinggi
    cuman yg jadi masalah, apa yg mereka baca?
    karya jk rowling ato putu wijaya?

    bukannya ga boleh baca produk luar
    tapi ada baiknya menjadi seimbang
    nah di sini orang tua punya peran dlm mengawasi dan memberi suplemen bacaan yg seimbang untuk anaknya

    saya sok tau yak😀

    —————-
    Setuju banget, Bung. Orang tua perlu sesekali melakukan kontrol terhadap bacaan sang anak. Jangan sampai mereka membaca buku2 “picisan” yang bisa menjerumuskan mereka untuk memanjakan nafsu dan selera rendahan, he3x.😀

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: