<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>JALUR LURUS</title>
	<atom:link href="http://sawali.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sawali.wordpress.com</link>
	<description>Jadikan Hari Esok Lebih Baik</description>
	<lastBuildDate>Sat, 17 Dec 2011 21:39:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='sawali.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>JALUR LURUS</title>
		<link>http://sawali.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://sawali.wordpress.com/osd.xml" title="JALUR LURUS" />
	<atom:link rel='hub' href='http://sawali.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Tahun Ajaran Baru dan Wajah Indonesia Masa Depan</title>
		<link>http://sawali.wordpress.com/2011/07/16/tahun-ajaran-baru-dan-wajah-indonesia-masa-depan/</link>
		<comments>http://sawali.wordpress.com/2011/07/16/tahun-ajaran-baru-dan-wajah-indonesia-masa-depan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Jul 2011 19:55:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[korupsi]]></category>
		<category><![CDATA[siswa baru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.wordpress.com/?p=611</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Sawali Tuhusetya Setiap kali memasuki tahun pelajaran baru, saya selalu menyaksikan wajah-wajah optimis para siswa baru. Dengan busana serba baru, mereka tampil percaya diri, penuh vitalitas, dan tak pernah menampakkan kelelahan. Sungguh kontras dengan “aura” negatif yang memancar dari wajah pejabat-pejabat kita yang gagal mengemban kepercayaan publik. Kalau tidak tersandung masalah hukum akibat korupsi, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sawali.wordpress.com&amp;blog=1352708&amp;post=611&amp;subd=sawali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh <a href="http://sawali.info/" target="_blank">Sawali Tuhusetya</a></p>
<p><img class="alignleft" src="http://i935.photobucket.com/albums/ad198/sawali64/fotoku.jpg?t=1310755988" alt="Sawali" width="300" />Setiap kali memasuki tahun pelajaran baru, saya selalu menyaksikan wajah-wajah optimis para siswa baru. Dengan busana serba baru, mereka tampil percaya diri, penuh vitalitas, dan tak pernah menampakkan kelelahan. Sungguh kontras dengan “aura” negatif yang memancar dari wajah pejabat-pejabat kita yang gagal mengemban kepercayaan publik. Kalau tidak tersandung masalah hukum akibat korupsi, tak jarang mereka terlibat dalam perselingkuhan atau kongkalingkong politik “hitam” yang tak sepenuhnya berjalan mulus. Menyaksikan wajah siswa baru selalu saja menumbuhkan imajinasi baru tentang wajah Indonesia masa depan di tengah beban dan persoalan bangsa yang kian berat. Merekalah yang dalam kurun waktu 15-25 tahun mendatang bakal tampil sebagai pengisi pos-pos penting dalam berbagai ranah kehidupan.</p>
<p><span id="more-611"></span>Menyaksikan wajah Indonesia masa kini tak ubahnya menatap wajah-wajah kaum elite yang bersembunyi di balik topeng dan badut. Mereka yang seharusnya memberikan keteladanan dalam mengendalikan dan mengelola negara justru tak jarang “berselingkuh” dengan berbagai kekuatan jahat yang secara tidak langsung berperan besar terhadap kebobrokan negara. Coba lihat saja berbagai pos penting dalam jajaran birokrasi negeri ini yang sebagian besar dikendalikan oleh para politisi. Bukannya kita “alergi” terhadap hal-hal yang beraroma politik. Namun, jika kita mau jujur, kita amat jarang menemukan sosok birokrat yang memiliki integritas dan kepribadian yang baik dari sosok seorang politisi. Diakui atau tidak, baju politik yang mereka kenakan amat berpengaruh terhadap dinamika birokrasi yang mereka kendalikan. Pertimbangan-pertimbangan politik masih amat dominan dalam pengambilan kebijakan dan keputusan penting. Untung-rugi politik jadi pertimbangan utama. Arasnya bukan lagi untuk kepentingan rakyat banyak, melainkan lebih pada egoisme partai yang mengedepankan kepentingan personal dan kelompok demi memenuhi ambisi politik beberapa waktu mendatang.</p>
<p>Persoalannya sekarang, apa yang mesti dilakukan ketika wajah Indonesia kontemporer tampak penuh bopeng dan sarat beban? Haruskah bangsa kita melakukan “ruwatan massal” dengan memotong satu generasi untuk membangun “Indonesia Baru” yang dinilai jauh lebih baik?</p>
<p>Memang bukan persoalan mudah untuk menjawab pertanyaan semacam itu. Dinamika Indonesia yang terlalu lamban dalam melakukan reformasi birokrasi memang membuat kita semua makin geregetan. Hembusan angin reformasi tidak serta-merta menciptakan atmosfer kehidupan bangsa kita jauh lebih baik dan tertata, melainkan justru terjebak pada euforia berlebihan yang hanya sekadar menguntungkan kelompok kepentingan tertentu yang kebetulan memiliki akses terhadap kekuasaan. Namun, gerakan “revolusi” yang berupaya untuk menyulap “Indonesia Baru” secara instant juga belum ada jaminan akan memberikan keuntungan buat masa depan bangsa. Bahkan, bisa jadi makin jauh terpuruk ke dalam kubangan gejolak sosial yang berkepanjangan dan multidimensi.</p>
<p>Dalam situasi demikian, dalam pemikiran awam saya, yang justru perlu dilakukan adalah melakukan pembenahan secara simultan dan berkelanjutan dengan target-target yang jelas dan terukur dalam berbagai ranah. Salah satu ranah penting yang perlu mendapatkan perhatian serius adalah dunia pendidikan. Di sanalah generasi masa depan negeri ini digembleng dan dididik untuk menjadi generasi masa depan yang tangguh dan tahan uji dalam menghadapi tantangan yang kian rumit dan kompleks. Banyak persoalan pendidikan yang penting dan mendesak untuk segera dipecahkan dan diintervensi. Selain suprastruktur pendidikan yang berkaitan dengan regulasi dan sistem yang dinilai masih sarat dengan kepentingan-kepentingan politik dan kekuasaan, faktor infrastruktur yang belum merata di berbagai daerah juga menjadi faktor penghambat dunia pendidikan kita. Mereka yang tinggal di kota-kota besar bisa demikian mudah mengakses berbagai informasi terbaru dan sumber-sumber keilmuan, tetapi anak-anak bangsa yang tinggal di daerah-daerah pedesaan yang masih jauh dari sentuhan kemajuan teknologi-informasi jelas akan makin sulit mengikuti kemajuan zaman di luar sana yang demikian kencang melaju menembus batas-batas peradaban.</p>
<p>Dua persoalan mendasar itu jelas butuh sentuhan dan perhatian serius, bukan hanya oleh pemerintah, melainkan juga para wakil rakyat yang kini bersinggasana di Senayan. Dua institusi inilah yang memiliki “kekuasaan” secara langsung untuk melakukan pembenahan supratruktur dan infrastruktur pendidikan kita. Jangan sampai lima tahun berkuasa, waktunya  hanya dihabiskan untuk memikirkan strategi politik semata untuk mempertahankan kekuasaan, apalagi kalau sampai terlibat dalam kongkalingkong jahat hingga tersandung persoalan-persoalan hukum yang amat tidak menguntungkan.</p>
<p>Kita amat merindukan wajah Indonesia masa depan yang adil dan makmur yang sudah amat lama diamanatkan oleh para pendiri negara. Sungguh menyedihkan kalau dalam usia 66 tahun merdeka dan 13 tahun menjalankan roda reformasi, negeri ini justru hanya melahirkan koruptor yang bersarang di berbagai lini birokrasi. Kita sangat berharap, limbah yang serba korup semacam itu tidak mewaris ke dalam aliran darah anak-anak bangsa yang kini mulai gencar menimba ilmu di ruang-ruang dunia pendidikan kita. ***</p>
<br />Filed under: <a href='http://sawali.wordpress.com/category/opini/'>Opini</a> Tagged: <a href='http://sawali.wordpress.com/tag/korupsi/'>korupsi</a>, <a href='http://sawali.wordpress.com/tag/siswa-baru/'>siswa baru</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sawali.wordpress.com/611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sawali.wordpress.com/611/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sawali.wordpress.com/611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sawali.wordpress.com/611/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sawali.wordpress.com/611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sawali.wordpress.com/611/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sawali.wordpress.com/611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sawali.wordpress.com/611/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sawali.wordpress.com/611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sawali.wordpress.com/611/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sawali.wordpress.com/611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sawali.wordpress.com/611/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sawali.wordpress.com/611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sawali.wordpress.com/611/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sawali.wordpress.com&amp;blog=1352708&amp;post=611&amp;subd=sawali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.wordpress.com/2011/07/16/tahun-ajaran-baru-dan-wajah-indonesia-masa-depan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		<georss:point>0.000000 0.000000</georss:point>
		<geo:lat>0.000000</geo:lat>
		<geo:long>0.000000</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c8cd62cdfc7b8b39c5d23a63e7c2da70?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sawali</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i935.photobucket.com/albums/ad198/sawali64/fotoku.jpg?t=1310755988" medium="image">
			<media:title type="html">Sawali</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>IDEOLOGI SASTRA INDONESIA</title>
		<link>http://sawali.wordpress.com/2011/03/11/ideologi-sastra-indonesia/</link>
		<comments>http://sawali.wordpress.com/2011/03/11/ideologi-sastra-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Mar 2011 11:16:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[apresiasi sastra]]></category>
		<category><![CDATA[kritik sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.wordpress.com/?p=600</guid>
		<description><![CDATA[IDEOLOGI SASTRA INDONESIA Maman S Mahayana Dua tulisan tentang ideologi yang dimuat Kompas (Novel Ali, “Ideologi Media Massa” 15/4 dan Komaruddin Hidayat, “Reformasi tanpa Ideologi” 24/4) menegaskan pentingnya institusi, gerakan, dan teristimewa: bangsa, melandasi arah perjuangannya ke depan dengan sebuah ideologi. “Ideologi media massa berkaitan dengan idealisme yang mestinya menjadi dasar perjuangan pers nasional,” demikian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sawali.wordpress.com&amp;blog=1352708&amp;post=600&amp;subd=sawali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>IDEOLOGI SASTRA INDONESIA</p>
<p><a href="http://mahayana-mahadewa.com/2011/03/05/ideologi-sastra-indonesia/" target="_blank">Maman S Mahayana</a></p>
<p>Dua tulisan tentang ideologi yang dimuat Kompas (Novel Ali, “Ideologi Media Massa” 15/4 dan Komaruddin Hidayat, “Reformasi tanpa Ideologi” 24/4) menegaskan pentingnya institusi, gerakan, dan teristimewa: bangsa, melandasi arah perjuangannya ke depan dengan sebuah ideologi. “Ideologi media massa berkaitan dengan idealisme yang mestinya menjadi dasar perjuangan pers nasional,” demikian Novel Ali. Sementara hal penting yang diajukan Komaruddin Hidayat adalah penyikapan negara menghadapi fenomena global. Di situlah, perlu diciptakan: “ideologi baru yang menyatukan kepentingan semua anak bangsa dan menjadi pengikat kohesi emosi dan cita-cita bersama ….”</p>
<p>***</p>
<p>Kesusastraan Indonesia sesungguhnya dapat memainkan peranan penting dalam menawarkan ideologi sebagai usaha membangun cita-cita bersama. Mengapa sastra? Bukankah itu cuma hayalan sastrawan belaka? Bukankah membaca karya sastra berarti membaca sebuah dunia fiksional? Bagaimana mungkin membangun cita-cita dan kepentingan bersama dapat dilakukan melalui sastra?</p>
<p><span id="more-600"></span>Sejumlah pertanyaan itu boleh dianggap representasi ketidaksadaran masyarakat kita pada fungsi sastra. Padahal, sejarah telah membuktikan itu. Misalnya, dari mana ungkapan Tanah Air (Indonesia) sebagai konsep abstrak menjadi entitas yang di sana bernaung sebuah bangsa? Siapa yang melontarkan gagasan itu, lalu mewujud kesatuan wilayah politik yang dipagari garis teritorial untuk membedakannya dengan wilayah negara lain?</p>
<p>Periksalah puisi “Tanah Air” Muhammad Yamin (Bogor, 1920). Yamin menempatkan puisi sebagai alat mengekspesikan perasaan, sekaligus gagasan tentang warga bangsa. Itulah awal konsep Tanah Air digunakan. Sejalan perkembangan pemikirannya, maknanya bergerak dari Tanah Air sebagai tempat kelahiran (Minangkabau-Sumatera) menjadi Tanah Air Indonesia. Vaderland (fatherland) yang dimaknai Ibu Pertiwi, adalah Indonesia yang secara politik belum menjadi negara. Maka, konsep Indonesia perlu dirumuskan melalui kesadaran yang menyangkut tiga faktor:</p>
<p>Pertama, Indonesia sebagai Tanah Air. Secara geografis tercakup dalam wilayah Nusantara. Kedua, Indonesia sebagai bangsa mempunyai sejarah panjang keagungan raja-rajanya. Ketiga, Indonesia terdiri dari berbagai sukubangsa, etnis, agama, bahasa. Mendiami pulau-pulau dan dipersatukan oleh kesadaran menggunakan bahasa yang sama sebagai alat komunikasi. Perumusan Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928 –yang dikatakan Sutardji Calzoum Bachri sebagai puisi—lahir atas kesadaran pada ketiga faktor itu. Pidato Yamin (disampaikan pada Kerapatan Besar Indonesia Muda, di Surakarta, 29 Desember—2 Januari 1931), menegaskan: ketiga faktor itu tidak ada artinya jika Indonesia tetap sebagai bangsa terjajah. “Kebangunan merupakan hal penting untuk mencapai kemerdekaan!”</p>
<p>Pemikiran Yamin tentang Tanah Air, bergerak dari ekspresi puitik ke penyikapan atas ideologi politik. Puisi menjadi pematik tumbuhnya kesadaran kebangsaan. Sesungguhnya, perjalanan sastra Indonesia adalah sejarah pemikiran ideologi. Sastra lahir dari sebuah ide, lalu mengeram, berkelindan, dan tumpah menjadi gagasan tentang kehidupan manusia yang diidealisasikan. Jadi, sastra hakikatnya ideologi yang ditawarkan sastrawan. Di sana, ada nilai-nilai yang hendak ditanamkan. Maka, membaca karya sastra pada dasarnya membuka diri pada dialog ideologis. Teks sastra adalah representasi ideologi pengarang. Teks itulah yang dihadapi pembaca. Tanpa sadar, pembaca disodori pilihan: melakukan pemihakan, perlawanan, atau kesadaran yang berkaitan dengan penyikapan pada nilai-nilai kemanusiaan.</p>
<p>Marco Kartodikromo, dalam Studen Hijo (1918) dan Rasa Merdika atau Hikayat Sudjarmo (1924) menawarkan kesadaran nasional melalui penggambaran kebrengsekan bangsa Belanda, di samping pentingnya para bangsawan bersatu membangun generasi baru kaum terpelajar. Hikayat Kadirun (1920) Semaun, lebih tegas lagi memberi pilihan: menjadi birokrat pemerintah kolonial atau memperjuangkan gerakan politik. Ketiga novel itu jelas sangat ideologis dengan menawarkan gerakan politik sebagai alat perjuangan. Cermati drama Bebasari (1926) Rustam Effendi. Secara simbolik tokoh Sita mewakili Ibu Pertiwi dan Rama mewakili pemuda Indonesia. Penculikan Sita oleh Rawana adalah simbolisasi penjajahan Belanda. Perjuangan Rama membebaskan Sita adalah pembebasan Indonesia dari kolonialisme Belanda. Bukankah karya-karya sastra tadi menyimpan pesan ideologi tentang bagaimana bangsa Indonesia menyikapi keberadaan pemerintah kolonial Belanda?</p>
<p>***</p>
<p>Mengapa Sutan Takdir Alisjahbana (STA) berhenti jadi redaktur Pandji Poestaka dan memutuskan mendirikan Poedjangga Baroe (1933) yang dananya mengandalkan bantuan beberapa orang bupati? Mengapa majalah yang pelanggannya sekitar 150-an orang dengan tiras tak pernah mencapai angka 500 menjadi sebuah monumen ketika kita berbicara tentang kebudayaan Indonesia? Melalui majalah itu, pertengkaran ideologi tentang Timur— Barat, tradisi—modernisasi, berkembang menjadi Polemik Kebudayaan. Sejumlah karya sastra yang dimuat Poedjangga Baroe menggambarkan perbalahan ideologi itu. Bukankah gagasan STA bermula dari penolakannya pada semangat model pantun dan syair. Dikatakan Armijn Pane: Kami tidak menyebut hasil jiwa kami syair dan pantun, tapi sajak dan puisi.” Para pengelola majalah itu menegaskan ideologinya: “Poedjangga Baroe mendjedjakkan kakinja dilapangan keboedajaan bangsa kita… keboedajaan persatoean Indonesia.”</p>
<p>Pada zaman Jepang, kesusastraan Indonesia dimanfaatkan untuk membangun ideologi Asia Timur Raya! Hampir semua karya diarahkan ke sana. Pemerintah mendirikan barisan propaganda (Sendenhan) dan Kantor Pusat Kebudayaan (Keimin Bunka Syidosyo). Juga gencar menyelenggarakan berbagai lomba penulisan dengan tema semangat Tiga A –Jepang pemimpin—pelindung—cahaya Asia. Bagaimana ideologi diselusupkan dalam karya sastra? Perhatikan nama-nama tokoh drama Pandoe Partiwi (1945), Merayu Sukma, pemenang pertama sayembara Asia Raja—Djawa Shimbun berikut ini: Dainip Jaya (pahlawan budiman), Partiwi (gadis yang rela berkorban untuk perjuangan majikannya, Dainip Jaya), Nadarlan (orang kaya kejam), Priayiwati (perempuan Nadarlan yang tak mau berjuang). Bukankah Dainip Jaya bermakna Dai Nippon yang jaya dan Nadarlan bermakna Nederland?</p>
<p>***</p>
<p>Begitulah, sastra Indonesia berkembang sesuai perubahan zaman. Ia mewartakan potret sosial dan semangat zaman, juga menyelusupkan pesan ideologi pengarang dalam menyikapi persoalan masyarakatnya. Maka, jika sastra Indonesia hendak dimanfaatkan menanamkan “ideologi” untuk membangun cita-cita bersama dalam menyikapi tantangan global, ada tiga skenario yang dapat dikembangkan:</p>
<p>Pertama, sejalan dengan semangat otonomi daerah, pemerintah daerah perlu mendorong sastrawan untuk menggali kebudayaan etnik dengan segala kearifan lokalnya. Penerbitan cerita rakyat dan pendistribusiannya ke sekolah-sekolah adalah langkah penting dalam menyiapkan generasi yang menyadari nilai-nilai luhur kebudayaan etnik sebagai bagian integral dari heterogenitas kebudayaan Indonesia.</p>
<p>Kedua, sastrawan Indonesia perlu didorong untuk mengembangkan nilai-nilai luhur melalui politik pencitraan dan menciptakan stigmatisasi pada segala bentuk kebrengsekan. Tentu saja dorongan itu dengan tetap memberi ruang kebebasan kreatif sastrawannya.</p>
<p>Ketiga, sejalan dengan semaraknya sastra Indonesia melalui jejaring sosial (blogger, multiply, twitter, dan facebook) pemerintah patut mempertimbangkan penerbitan karya-karya yang baik untuk mendorong aktivitas itu lebih konstruktif dan berbobot. Pengekangan aktivitas mereka adalah tindakan kontra-produktif yang akan menuai gelombang protes.</p>
<p>Jika melihat perjalanan sastra Indonesia yang ideologis itu, menciptakan ideologi baru untuk membangun cita-cita bersama, bukanlah sesuatu yang berlebihan. Sastra patutlah menjadi pilihan. (Maman S Mahayana, Pengajar FIB-UI Depok. Kini Mengajar di Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea)</p>
<br />Filed under: <a href='http://sawali.wordpress.com/category/esai/'>Esai</a> Tagged: <a href='http://sawali.wordpress.com/tag/apresiasi-sastra/'>apresiasi sastra</a>, <a href='http://sawali.wordpress.com/tag/kritik-sastra/'>kritik sastra</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sawali.wordpress.com/600/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sawali.wordpress.com/600/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sawali.wordpress.com/600/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sawali.wordpress.com/600/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sawali.wordpress.com/600/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sawali.wordpress.com/600/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sawali.wordpress.com/600/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sawali.wordpress.com/600/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sawali.wordpress.com/600/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sawali.wordpress.com/600/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sawali.wordpress.com/600/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sawali.wordpress.com/600/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sawali.wordpress.com/600/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sawali.wordpress.com/600/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sawali.wordpress.com&amp;blog=1352708&amp;post=600&amp;subd=sawali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.wordpress.com/2011/03/11/ideologi-sastra-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>0.000000 0.000000</georss:point>
		<geo:lat>0.000000</geo:lat>
		<geo:long>0.000000</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c8cd62cdfc7b8b39c5d23a63e7c2da70?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sawali</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Selamat Tahun Baru 2010</title>
		<link>http://sawali.wordpress.com/2009/12/27/selamat-tahun-baru-2010/</link>
		<comments>http://sawali.wordpress.com/2009/12/27/selamat-tahun-baru-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Dec 2009 18:07:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.wordpress.com/?p=578</guid>
		<description><![CDATA[Detik-detik pergantian tahun kembali tiba. Tahun 2009 dengan segala hiruk-pikuk dan segenap dinamikanya akan segera kita tinggalkan. Lembaran tahun 2010 pun akan segera terbuka. Setiap pergantian tahun selalu menyisakan kenangan dan menyembulkan optimisme untuk menyongsong perubahan dan harapan-harapan baru. Selamat Tahun Baru 2010 buat sahabat-sahabat semua, semoga tambah sehat, segar-bugar, makin lancar rezekinya, dan makin [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sawali.wordpress.com&amp;blog=1352708&amp;post=578&amp;subd=sawali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="http://www.coolbuddy.com/wallpapers/holidays/imgs/New_Year14.jpg" alt="Tahun Baru" width="300" /> Detik-detik pergantian tahun kembali tiba. Tahun 2009 dengan segala hiruk-pikuk dan segenap dinamikanya akan segera kita tinggalkan. Lembaran tahun 2010 pun akan segera terbuka. Setiap pergantian tahun selalu menyisakan kenangan dan menyembulkan optimisme untuk menyongsong perubahan dan harapan-harapan baru.</p>
<p>Selamat Tahun Baru 2010 buat sahabat-sahabat semua, semoga tambah sehat, segar-bugar, makin lancar rezekinya, dan makin sejahtera. Semoga para koruptor juga makin insyaf dan kembali ke jalur yang lurus, amiin.</p>
<br />Posted in Refleksi  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sawali.wordpress.com/578/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sawali.wordpress.com/578/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sawali.wordpress.com/578/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sawali.wordpress.com/578/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sawali.wordpress.com/578/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sawali.wordpress.com/578/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sawali.wordpress.com/578/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sawali.wordpress.com/578/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sawali.wordpress.com/578/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sawali.wordpress.com/578/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sawali.wordpress.com/578/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sawali.wordpress.com/578/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sawali.wordpress.com/578/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sawali.wordpress.com/578/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sawali.wordpress.com&amp;blog=1352708&amp;post=578&amp;subd=sawali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.wordpress.com/2009/12/27/selamat-tahun-baru-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c8cd62cdfc7b8b39c5d23a63e7c2da70?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sawali</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.coolbuddy.com/wallpapers/holidays/imgs/New_Year14.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Tahun Baru</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Informasi Alamat Blog</title>
		<link>http://sawali.wordpress.com/2008/12/04/informasi-alamat-blog/</link>
		<comments>http://sawali.wordpress.com/2008/12/04/informasi-alamat-blog/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Dec 2008 14:07:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.wordpress.com/?p=550</guid>
		<description><![CDATA[Sebelumnya saya mengucapkan terima kasihkepada sahabat-sahabat yang telah berkenan mampir di blog ini. Namun, mohon maaf kalau banyak komentar yang tidak saya respon, karena adanya keterbatasan waktu. Selain itu, blog ini hanya saya up-date sekadar untuk menyampaikan informasi-informasi baru berkaitan dengan kegiatan yang saya lakukan. Untuk itu, melalui postingan ini, saya informasikan bahwa blog-blog yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sawali.wordpress.com&amp;blog=1352708&amp;post=550&amp;subd=sawali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebelumnya saya mengucapkan terima kasihkepada sahabat-sahabat yang telah berkenan mampir di blog ini. Namun, mohon maaf kalau banyak komentar yang tidak saya respon, karena adanya keterbatasan waktu. Selain itu, blog ini hanya saya up-date sekadar untuk menyampaikan informasi-informasi baru berkaitan dengan kegiatan yang saya lakukan.</p>
<p>Untuk itu, melalui postingan ini, saya informasikan bahwa blog-blog yang rutin saya update adalah:</p>
<ol>
<li><a title="CST" href="http://sawali.info/">Catatan Sawali Tuhusetya</a> : blog ini berupa kumpulan catatan ringan seorang guru tentang dunia pendidikan, bahasa, sastra, dan budaya. Sesekali menyentil peradaban yang &#8220;sakit&#8221; dengan gaya slengekan dan seadanya.</li>
<li><a title="mp" href="http://sawali.us">Meniti Pelangi</a>: &#8220;Kehidupan seperti pelangi. Penuh warna-warni; indah dan eksotis. Perbedaan justru membuat hidup dan kehidupan makin bermakna.&#8221; Itulah motto yang saya gunakan. Blog ini juga merupakan blog pribadi yang berisi catatan harian tentang sisi-sisi kehidupan sosial dan kemanusiaan.</li>
<li><a title="blog mgmp" href="http://mgmpbismp.co.cc/">Blog MGMP Bahasa Indonesia SMP</a>: Blog komunitas MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) Bahasa Indonesia SMP/MTs Kabupaten Kendal Jawa Tengah yang diluncurkan pada tanggal 1 Desember 2008 ini merupakan blog komunitas guru Bahasa Indonesia SMP/MTs. Blog ini lahir sebagai wadah untuk bisa ikut berkiprah dalam memberikan sumbangsih pemikiran terhadap kemajuan pembelajaran Bahasa Indonesia, khususnya, dan dunia pendidikan pada umumnya.</li>
</ol>
<p>Jika berkenan, silakan mampir ke blog-blog tersebut. Insya-Allah, blog-blog tersebut tetep bisa ter-update secara rutin sebagai upaya untuk terus membangun semangat berbagi dan bersilaturahmi.</p>
<p>Terima kasih dan salam budaya!</p>
<p>Sawali Tuhusetya</p>
<br />Posted in Refleksi  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sawali.wordpress.com/550/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sawali.wordpress.com/550/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sawali.wordpress.com/550/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sawali.wordpress.com/550/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sawali.wordpress.com/550/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sawali.wordpress.com/550/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sawali.wordpress.com/550/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sawali.wordpress.com/550/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sawali.wordpress.com/550/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sawali.wordpress.com/550/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sawali.wordpress.com/550/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sawali.wordpress.com/550/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sawali.wordpress.com/550/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sawali.wordpress.com/550/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sawali.wordpress.com&amp;blog=1352708&amp;post=550&amp;subd=sawali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.wordpress.com/2008/12/04/informasi-alamat-blog/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c8cd62cdfc7b8b39c5d23a63e7c2da70?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sawali</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menunggu Aksi Menjelang UN</title>
		<link>http://sawali.wordpress.com/2008/08/30/menunggu-aksi-menjelang-un/</link>
		<comments>http://sawali.wordpress.com/2008/08/30/menunggu-aksi-menjelang-un/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Aug 2008 19:29:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[kurikulum]]></category>
		<category><![CDATA[ujian nasional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.wordpress.com/?p=542</guid>
		<description><![CDATA[Selama dua hari (Kamis-Jumat, 28-29 Agustus 2008), saya mengikuti Rapat Koordinasi (Rakor) Evaluasi hasil Ujian Nasional (UN) di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Semarang Jawa Tengah. Dalam acara itu hadir Dr. Baedhowi, Dirjen PMPTK (Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan) Depdiknas, Dr. Ir. Indra Jati Sidi, mantan Dirjen Dikdasmen, Depdiknas, Prof. Dr. Djaali, anggota Badan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sawali.wordpress.com&amp;blog=1352708&amp;post=542&amp;subd=sawali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selama dua hari (Kamis-Jumat, 28-29 Agustus 2008), saya mengikuti Rapat Koordinasi (Rakor) Evaluasi hasil Ujian Nasional (UN) di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Semarang Jawa Tengah. Dalam acara itu hadir Dr. Baedhowi, Dirjen PMPTK (Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan) Depdiknas, Dr. Ir. Indra Jati Sidi, mantan Dirjen Dikdasmen, Depdiknas, Prof. Dr. Djaali, anggota Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) Depdiknas, perwakilan dari Pemkab/Pemkot dan Komisi E DPRD Kab/Kota se-Provinsi Jawa Tengah, pengurus MKKS (Musyawarah Kerja Kepala Sekolah), pengawas, serta pengurus MGMP (IPA dan Bahasa Indonesia SMP serta Matematika, Bahasa Inggris, dan IPA SMA/SMK) dari 35 kabupaten se-Jateng. Kehadiran saya saat itu mewakili teman-teman guru Bahasa Indonesia yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia SMP Kabupaten Kendal.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Secara jujur harus diakui, masih banyak persoalan yang muncul ketika UN digelar menjadi sebuah “ritual” menjelang akhir tahun; mulai kebocoran soal, materi soal yang diragukan kesahihannya, hingga penghalalan segala macam cara untuk mengatrol nilai UN demi meningkatkan “marwah” sekolah atau daerah. Selain itu, selalu saja ada sindrom kecemasan yang menghantui guru, orang tua, dan siswa ketika saat-saat yang paling mendebarkan itu tiba.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span id="more-542"></span>Persoalan lain adalah hilangnya “roh” kurikulum yang dikhawatirkan akan sangat memengaruhi optimalisasi pelaksanaan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang kini sudah mulai dilaksanakan oleh berbagai sekolah. Otonomi pendidikan yang gencar digembar-gemborkan di sekolah agaknya akan menghadapi banyak kendala karena sentralisasi belum sepenuhnya dilepaskan oleh pemerintah pusat. Kegiatan pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (Paikem) pun menjadi sulit diimplementasikan, terutama di kelas-kelas terakhir. Murid-murid akan di-<em>drill </em>dan digelontor dengan setumpuk soal UN yang diprediksikan akan muncul dalam UN. Pendekatan behaviouristik yang mengutamakan hafalan pun akan terasa lebih dominan ketimbang pendekatan konstruktivistik yang menekankan pada upaya untuk mengajak siswa menemukan dan meng-konstruksi pengalaman belajarnya secara mandiri. Semuanya jadi serba mekanis –meminjam istilah Rama Mangunwijaya—tak ubahnya seperti pelatihan yang diterapkan untuk binatang-binatang sirkus.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Namun, agaknya berbagai kecemasan dan kekhawatiran itu tak melunturkan semangat para penentu kebijakan untuk menjadikan UN sebagai indikator peningkatan mutu pendidikan. Bahkan, ada upaya serius untuk meningkatkan standar nilai UN dari tahun ke tahun. MGMP yang dinilai berada di garda depan dalam membuka ruang komunikasi dan interaksi dengan sesama guru mata pelajaran, diharapkan dapat mengindentifikasi dan merumuskan segala macam permasalahan yang terjadi, mencari alternatif pemecahan, dan menentukan program yang tepat untuk mengatasi permasalahan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dalam Rakor itu, perwakilan MGMP yang hadir memang telah merumuskan beberapa rekomendasi yang ditujukan kepada Depdiknas agar pelaksanaan UN tak terjebak menjadi sebuah rutinitas tahunan yang mencemaskan dan mendebarkan banyak pihak. Salah satu rekomendasi yang penting dan substansial di antaranya keterbukaan informasi yang berkaitan dengan nilai UN yang selama ini (nyaris) tak pernah sampai secara utuh kepada “stakeholder” pendidikan. Kunci jawaban, misalnya, selama ini tak pernah diketahui oleh para guru, sehingga mereka tidak bisa melakukan analisis dan tindak lanjut terhadap hasil UN yang selama ini dicapai oleh siswanya. Imbasnya, banyak guru yang mengerutkan jidat ketika menemukan banyak siswanya yang bagus nilai hariannya, ternyata justru malah hancur nilai UN-nya. Demikian pula sebaliknya, siswa yang nilai hariannya hanya pas-pasan, justru mendapatkan nilai bagus dalam UN. Mengapa hal itu bisa terjadi? Itulah pertanyaan besar yang hingga kini belum bisa ditemukan jawabannya oleh para guru.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Karena secara regulatif masuk dalam klausul UU No. 20/2003 tentang Sisdiknas, setuju atau tidak, UN akan tetap digelar setiap tahun. Setiap daerah dengan sendirinya akan terus berpacu untuk menjadikan UN sebagai “ikon” keberhasilan peningkatan mutu Sumber Daya Manusia (SDM). Nah, bagaimana respon setiap daerah dalam menyongsong pelaksanaan U\N tahun 2008/2009? Agaknya, kita masih akan disuguhi berbagai jurus atraktif setiap daerah dalam menyongsong kehadiran UN di atas panggung dunia pendidikan. Kita tunggu saja! ***</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">(Mohon maaf kalau tulisan ini tidak disertai gambar karena “human error”, haks!)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sawali.wordpress.com/542/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sawali.wordpress.com/542/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sawali.wordpress.com/542/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sawali.wordpress.com/542/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sawali.wordpress.com/542/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sawali.wordpress.com/542/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sawali.wordpress.com/542/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sawali.wordpress.com/542/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sawali.wordpress.com/542/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sawali.wordpress.com/542/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sawali.wordpress.com/542/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sawali.wordpress.com/542/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sawali.wordpress.com/542/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sawali.wordpress.com/542/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sawali.wordpress.com/542/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sawali.wordpress.com/542/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sawali.wordpress.com&amp;blog=1352708&amp;post=542&amp;subd=sawali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.wordpress.com/2008/08/30/menunggu-aksi-menjelang-un/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c8cd62cdfc7b8b39c5d23a63e7c2da70?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sawali</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Membumikan Tuhan ala Dharmadi</title>
		<link>http://sawali.wordpress.com/2008/08/25/membumikan-tuhan-ala-dharmadi/</link>
		<comments>http://sawali.wordpress.com/2008/08/25/membumikan-tuhan-ala-dharmadi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Aug 2008 18:34:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[moral]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[antologi puisi]]></category>
		<category><![CDATA[diskusi sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.wordpress.com/?p=537</guid>
		<description><![CDATA[Untuk ke sekian kalinya, Aula Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi, Kabupaten Kendal, menjadi saksi sebuah perhelatan sastra. Minggu, 24 Agustus 2008 (pukul 09.00-13.30), penyair Dharmadi (Purwokerto) hadir menemui publik sastra Kendal. Tak kurang, sekitar 100 peminat dan pencinta sastra dari kalangan guru, mahasiswa, siswa SMP/SMA/MAN, dan masyarakat umum mengapresiasi sekaligus membedah teks-teks puisi karya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sawali.wordpress.com&amp;blog=1352708&amp;post=537&amp;subd=sawali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="http://sawali64.googlepages.com/buku1.jpg" alt="buku puisi" width="200" height="324" />Untuk ke sekian kalinya, Aula Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi, Kabupaten Kendal, menjadi saksi sebuah perhelatan sastra. Minggu, 24 Agustus 2008 (pukul 09.00-13.30), penyair Dharmadi (Purwokerto) hadir menemui publik sastra Kendal. Tak kurang, sekitar 100 peminat dan pencinta sastra dari kalangan guru, mahasiswa, siswa SMP/SMA/MAN, dan masyarakat umum mengapresiasi sekaligus membedah teks-teks puisi karya penyair kelahiran Semarang, 30 September 1948, itu. Secara khusus, penyair yang kini menetap di Tegal (Jateng) itu mendedahkan antalologi puisi terbarunya, “Jejak Sajak” yang diterbitkan secara mandiri.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Acara diawali dengan pembacaan dua buah puisi oleh awak Teater Semut Kendal yang sekaligus juga menjadi penjaga gawang acara. Fenny mampu berekspresi secara total dan musikal sehingga mengundang aplaus pengunjung. Agaknya, pembacaan puisi yang total dan ekspresif itulah yang mampu membawa audiens ke ruang imajinasi yang hendak disuguhkan oleh sang penyair. Buktinya, begitu diskusi dibuka, muncul banyak respon. Tak hanya dari kalangan guru. Siswa pun tak kalah bersemangat dalam mengapresiasi dan berdiskusi. Abdul Majid, salah seorang siswa SMA 1 Kendal, misalnya, langsung menghentak lewat sebuah “gugatan”, “Mengapa Pak Dharmadi masih saja selalu mengangkat tema-tema religius ke dalam puisi? Bukankah tema-tema itu sudah menjadi tema umum yang diangkat oleh para penyair?”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span id="more-537"></span>Yaps, sebuah “gugatan” yang mengejutkan sekaligus cerdas. Saya yang kebetulan didaulat menjadi moderator pun sempat terhenyak. Sebuah pertanyaan yang (nyaris) tak pernah terlintas dalam imajinasi dan pikiran saya. Menjawab “gugatan” semacam itu, Dharmadi dengan tangkas bereaksi bahwa setiap orang pada hakikatnya memiliki rasa berketuhanan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Saya sedang mencari Tuhan!” Demikian reaksi balik dari penyair berpenampilan kalem ini. “Sejak kecil saya belum pernah bisa membumikan Tuhan. Didikan keluarga belum sepenuhnya mampu menghidupkan nilai-nilai religius itu ke dalam jiwa dan batin saya. Demikian juga selama proses kepenyairan saya yang telah berlangung lebih dari 30 tahun. Selalu saja Tuhan mengusik kegelisahan saya.” Begitulah jawaban yang bisa saya tangkap dari sang penyair.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Simak saja larik-larik puisi berikut ini!</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">//Kamboja tumbuh di retak-retak sawah ladang/melintas-lintas gagak terbang/sungai meratapi diri/merasa kehilangan arti.//</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">//gunung kelabu/di puncaknya tak ada lagi/ langit biru//</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">//matahari tajam menatap bumi/tak henti-henti melelehkan api.//</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>(Musim Kering)</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><img src="http://sawali64.googlepages.com/pentas1.jpg" alt="diskusi" width="250" height="187" /><img src="http://sawali64.googlepages.com/pentas2.jpg" alt="pentas " width="250" height="187" /><img src="http://sawali64.googlepages.com/pentas3.jpg" alt="pentas1" width="250" height="187" /><img src="http://sawali64.googlepages.com/pentas4.jpg" alt="pentas 2" width="250" height="187" /><img src="http://sawali64.googlepages.com/pentas5.jpg" alt="diskusi2" width="250" height="187" /><img src="http://sawali64.googlepages.com/pentas6.jpg" alt="diskusi3" width="250" height="187" /></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Memang tak ada kata-kata Tuhan atau kutipan ayat-ayat suci. Namun, berdasarkan pendalaman rasa dan olah intuisi sang penyair, ada persoalan religi yang sangat kuat terpancar di sana. Betapa Dharmadi sangat peka dan sekaligus meratapi nasib lingkungan hidup yang (nyaris) mengalami kematian. Gersang dan tandus. Betapa umat manusia selama ini, disadari atau tidak, selalu abai terhadap teks-teks Tuhan yang tampak jelas di depan mata.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Demikian juga dalam sajak “Rindu Bening Telaga Matamu”; //kurindu bening telaga mata-mu/untuk membasuh muka agar kembali mengenal/wajah asalku//</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sajak yang pendek, tapi sungguh cerdas dalam mengungkapkan kegelisahan batin sang penyair ketika menghadapi kegamangan hidup hingga lupa mengenal jatidirinya sendiri. Dalam kondisi semacam itu, sang penyair sangat rindu kepada Sang Pencipta.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dari sisi stilistika, Dharmadi memang tak banyak menggunakan metafor-metafor yang “njlimet” dan ndakik-ndakik (bombastis). Ia berpuisi dengan polos dan jujur. Diksinya sederhana. Dharmadi juga tak tergoda untuk berbicara tentang tema dan narasi-narasi besar. Ia berbicara tentang persoalan-persoalan keseharian dalam upayanya membumikan Tuhan dalam makna yang sesungguhnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Walhasil, diskusi pun makin seru ketika banyak guru yang ingin menjadikan teks puisi Dharmadi sebagai salah satu rujukan dalam pembelajaran.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&#8220;Saya sangat suka dengan puisi Pak Dharmadi yang sederhana diksinya. Cocok untuk bahan ajar murid-murid saya yang selama ini hampir tak pernah paham apa itu puisi!&#8221; ujar Pak Subadi, guru SMP 3 Pegandon. Terbatasnya waktu, jelas tak memungkinkan Dharmadi untuk menjawab secara tuntas semua respon audiens. Namun, yang pasti, kehadiran Dharmadi makin menggeliatkan dinamika sastra di kota “Beribadat” ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Baik, Bung Dharmadi, semoga Sampeyan tetap eksis berkiprah untuk menghasilkan teks-teks puisi yang lebih “membumi”; yang berbicara secara polos dan jujur, untuk terus melakukan pencarian terhadap Tuhan. Semoga Tuhan yang sesungguhnya bisa Sampeyan temukan, sebab pada zaman yang “sakit” seperti sekarang, memang banyak bermunculan tuhan-tuhan baru yang tampil penuh kesombongan dan ingin disembah-sembah banyak orang.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ok, salam kreatif dan salam budaya! ***</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sawali.wordpress.com/537/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sawali.wordpress.com/537/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sawali.wordpress.com/537/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sawali.wordpress.com/537/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sawali.wordpress.com/537/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sawali.wordpress.com/537/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sawali.wordpress.com/537/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sawali.wordpress.com/537/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sawali.wordpress.com/537/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sawali.wordpress.com/537/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sawali.wordpress.com/537/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sawali.wordpress.com/537/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sawali.wordpress.com/537/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sawali.wordpress.com/537/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sawali.wordpress.com/537/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sawali.wordpress.com/537/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sawali.wordpress.com&amp;blog=1352708&amp;post=537&amp;subd=sawali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.wordpress.com/2008/08/25/membumikan-tuhan-ala-dharmadi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c8cd62cdfc7b8b39c5d23a63e7c2da70?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sawali</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sawali64.googlepages.com/buku1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">buku puisi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sawali64.googlepages.com/pentas1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">diskusi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sawali64.googlepages.com/pentas2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">pentas </media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sawali64.googlepages.com/pentas3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">pentas1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sawali64.googlepages.com/pentas4.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">pentas 2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sawali64.googlepages.com/pentas5.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">diskusi2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sawali64.googlepages.com/pentas6.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">diskusi3</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Catatan terhadap Cerpen-Cerpen Sawali Tuhusetya *)</title>
		<link>http://sawali.wordpress.com/2008/08/21/catatan-terhadap-cerpen-cerpen-sawali-tuhusetya/</link>
		<comments>http://sawali.wordpress.com/2008/08/21/catatan-terhadap-cerpen-cerpen-sawali-tuhusetya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Aug 2008 01:48:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[moral]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[diskusi sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Kumpulan Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Peluncuran Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.wordpress.com/?p=505</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Kurnia Effendi Membaca cerpen-cerpen Sawali, saya teringat syarat yang pernah saya terapkan untuk diri sendiri, agar saya “yang lain”, sebagai “pembaca” sebelum pembaca lain, lebih dulu menikmati cerpen itu. Lalu teringat juga pendapat seorang cerpenis jauh sebelum saya, bahwa cerita pendek adalah kisah yang habis dibaca dalam sekali duduk. Namun sebaliknya saya juga mendapatkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sawali.wordpress.com&amp;blog=1352708&amp;post=505&amp;subd=sawali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">Oleh: Kurnia Effendi</p>
<p style="text-align:justify;">Membaca cerpen-cerpen Sawali, saya teringat syarat yang pernah saya terapkan untuk diri sendiri, agar saya “yang lain”, sebagai “pembaca” sebelum pembaca lain, lebih dulu menikmati cerpen itu. Lalu teringat juga pendapat seorang cerpenis jauh sebelum saya, bahwa cerita pendek adalah kisah yang habis dibaca dalam sekali duduk. Namun sebaliknya saya juga mendapatkan pengalaman luar biasa dengan membaca cerpen-cerpen panjang (yang seolah melawan kaidah istilahnya sendiri) karya Budi Darma.</p>
<p style="text-align:left;">Empat syarat (bisa kurang dan lebih) yang kemudian saya pegang itu adalah sebagai berikut:</p>
<ol style="text-align:left;">
<li>Kemampuan berbahasa: syarat utama penulis, agar cukup komunikatif, syukur-syukur mengandung estetika</li>
<li>Logika fiksi: sekalipun fantastik ada “hukum” yang menjaga “kebenaran” kisah</li>
<li>Gaya (meliputi teknik penceritaan, struktur, plot, majas, sudut pandang, karakter atau penokohan, dialog, deskripsi, konflik, dll)  bagaimana mengolah gagasan</li>
<li>Orisinalitas: dewasa ini sangat sulit mencapainya, karena setiap pengarang terdahulu akan memberikan pengaruh kepada kita.</li>
</ol>
<p style="text-align:left;"><span id="more-505"></span>Dengan ketentuan itu saya terus berlatih. Sebagai orang yang hobi menulis, saya kadang-kadang juga gagal menulis cerpen. Jadi kepada siapa pun yang belum berhasil menulis cerpen, tak usah merasa cemas. Kesulitan itu menjadi hak para pengarang, sebaliknya, kemudahan adalah sebuah kewajiban yang harus dipenuhi calon penulis besar. Dengan, tentu saja, tak pernah putus asa dan mencintai pekerjaan menulis sebagai kebutuhan ruhani kita.</p>
<p style="text-align:justify;">Mudah-mudahan buku Sawali ini adalah hasil kelahirannya yang pertama untuk menjangkau publik secara lebih luas, setelah sebelumnya hanya melalui suratkabar. Untuk kesempatan yang pertama, tidak tabu bila banyak hal yang kelak harus diperbaiki. Pengalaman pertama dalam peristiwa apapun senantiasa mendebarkan. Saya sendiri tak pernah malu mengatakan bahwa buku pertama saya, kumpulan puisi, mengandung banyak kesalahan, bukan hanya dari human error pengetikan, tetapi secara substansial. Tetapi, itulah jejak kita. Tak harus disesali kecuali dengan belajar lagi dan berkarya lebih baik.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari sisi tema dan segmentasi, saya pun sering tak sadar merasa bangga pernah menjadi penulis cerita remaja (Anita Cemerlang, Gadis, Hai, dll). Padahal Ahmad Shubanuddin Alwi, penyair Cirebon getol menggoda saya soal itu. Melihat sejarah yang ditempuh Sawali, saya jadi iri. Karena pada pengalaman perdananya justru langsung bertemu dengan publik dewasa yang lebih universal.</p>
<p style="text-align:justify;">Secara terus terang, untuk memasuki realitas kehidupan, rentang pandangannya harus luas sekaligus terlibat. Saya kira Sawali lahir dan hidup di tengah-tengah peristiwa yang ditulisnya. Ketika Sawali mengatakan cerpen-cerpennya menyoroti kehidupan “wong cilik”, ini merupakan nilai yang membumi, lekat dengan keseharian orang banyak, dan hal-hal yang seharusnya menjadi karakter populasi terbanyak di negeri kita.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk sampai pada cerpen yang mengandung suara orang kecil, mengangkat tradisi lokal, kritik sosial, sekaligus unsur magis yang tampaknya digunakan sebagai metafora peristiwa, dibutuhkan wawasan yang cukup memadai. Saya kira Sawali cukup jeli dalam pengamatan, sementara orang lain mungkin perlu melakukan riset.</p>
<p style="text-align:justify;">Pendapat Maman Mahayana, bahwa materi cerita yang berpijak pada kultur keindonesiaan (bahkan dalam wilayah regional) lebih berharga ketimbang kisahan yang mengedepankan busa puitika yang mungkin kosong dari hikmah manfaat, selain perayaan terhadap sesuatu yang antah-berantah; saya setuju. Namun akan lebih setuju apabila ada paduan harmoni antara isi yang sarat muatan kritik sosial dan tradisi lokal dengan kemasan bahasa yang turut memperkaya benak pembaca. Karena bagi penulis Asia dan Timur Tengah pada umumnya, sisi eksotika tidak hanya diciptakan dari materi melainkan juga dari ekspresi dan cara ungkapnya. Misalnya Kawabata, Rabindranath Tagore, Yukio Mishima, Kahlil Gibran (untuk menyebut beberapa nama).</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan tuntunan syarat menulis cerpen itulah, kemudian saya sering mengamati karya orang lain dari sudut pandang subyektif. Pertama kali saya akan mencari kenikmatan membaca sejak paragraf pertama. Berbekal nasihat Seno Gumira untuk memosisikan diri lebih rendah dari bahan yang kita baca, tak akan muncul sikap apriori. Setelah usai satu cerpen, merenung untuk menangkap maksud pengarangnya, siasat apa yang digunakannya sehingga, misalnya, perhatian saya terbetot atau sebaliknya selalu kalis dan luput.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebenarnya ihwal dari kemampuan berbahasa adalah nilai komunikasinya. Ada seorang penulis dengan intelektual tinggi, materi yang cukup bernas untuk disampaikan, kerap tersandung pada urusan komunikasi. Sehingga perlu diulang-ulang dengan mencoba berbagai intonasi dan pemenggalan diksi untuk memperoleh informasi yang benar. Sawali telah terbebas dari urusan kerumitan, tetapi saya belum mengalami kenikmatan dalam membaca.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya sering curiga, jangan-jangan saya yang terlalu kenes sehingga mengharapkan ada kosakata baru atau majas yang belum pernah digunakan pengarang lain dalam cerpen-cerpen Sawali. Justru yang tampak adalah pengulangan metafora. Tentu saja perhatian saya sudah beralih pada gaya: ketika plot dimainkan, ketika karakter tokoh meyakinkan, ketika dialog diciptakan, ketika teknik dikembangkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin saya belum menemukan hal-hal baru. Boleh jadi secara stereotip, perilaku dan emosi manusia yang marginal (dari sisi ekonomi) pada tokoh-tokoh cerpen Sawali itu serupa dan senada karena tindihan persoalan hidup yang sama. Namun akan lebih kokoh sebuah cerita bila masing-masing tokoh punya karakter yang tidak digeneralisasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Secara <em>highlight </em>saya membaca dialog (yang diharapkan menyusun ketegangan) pada beberapa cerpen, terasa tidak efektif karena boleh dilewatkan. Padahal seharusnya dialog dan deskripsi akan saling membangun struktur cerita, saling mengisi. Paling tidak, cerpen dengan halaman yang terbatas harus semaksimal mungkin dipenuhi informasi tanpa harus cerewet. Di sini kita akan belajar mengenai ruang imajiner yang segera diisi oleh fantasi pembaca dengan gambaran peristiwa, bayangan dramatikal, dan ungkapan-ungkapan gemas, padahal tak tertulis (atau belum). Dengan keterlibatan total sang pembaca pada sebuah keberlangsungan cerita pendek, pengarang menjadi lebih ringan tugasnya dalam menarik-narik pembaca untuk konsentrasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Sawali telah memiliki modal besar dari sisi kekuatan bahan cerita. Akar ini telah tertanam benar pada ranah budaya (lokal), sebelum menjadi buah sastra (cerpen) sebaiknya lewatilah pohon bahasa. Artinya, kita harus sadar, bahwa tulisan yang diubahkemasan menjadi buku akan berselancar lebih lebar ke wilayah non-Jawa. Kesederhanaan di satu sisi akan menjadi primadona, namun penjelajahan pada pengertian-pengertian yang lebih kompleks boleh diperhatikan.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal lain yang perlu diketengahkan dalam cerita pendek adalah konflik. Sejauh ini, konflik kerap ditunjukkan dalam bentuk pertengkaran dan perilaku fisikal. Padahal konflik batin, ambiguitas, paradoks antara norma dan praktiknya, juga menjadi bagian yang penting, terutama dalam khazanah sastra. Mengapa film House of The Spirit atau Legend of The Fall selalu berkesan mendalam dan ingin di waktu-waktu berikutnya ditonton kembali? Itu, menurut pendapat saya, karena berbeda dengan film action Hongkong. Barangkali dengan mempertimbangkan kenyataan itu, film action berjudul Hero dan Crouching Tiger Hidden Dragon dikemas lebih puitis.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam karya-karya (yang bakal menjadi klasik) itu ada endapan konflik yang kadang-kadang jadi multitafsir. Jika cerpen-cerpen Sawali tampak terlalu lugas, mungkin itu cara yang ditempuhnya dengan niat tulus. Artinya, tak ada paksaan untuk membuatnya sedikit misterius. Namun demikian di beberapa cerpen, tampak kekuatan surealisme, dan unsur ini menurut saya menarik dikembangkan dalam kesempatan berikutnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai fragmen, cerpen-cerpen Sawali telah tampil sesuai fungsinya. Merupakan potret yang kita lihat dalam bingkai awal dan akhir. Selanjutnya tinggal memperkuat latar belakang dan penokohan, sehingga dengan memejamkan mata kita dapat membayangkan masing-masing pemeran untuk tidak tertukar atau kehilangan ciri khas.</p>
<p style="text-align:justify;">Selamat untuk Sawali Tuhusetya yang mulai hari ini akan berhadapan dengan pembaca yang lebih banyak dan sewaktu-waktu mengusik dengan sejumlah pertanyaan. Termasuk dalam forum diskusi ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Jakarta, 16 Mei 2008<br />
PDS HB Jassin
</p>
<p style="text-align:justify;">oOo</p>
<p style="text-align:justify;">*) Disajikan dalam acara Diskusi dan Peluncuran Kumpulan <em>Cerpen Perempuan Bergaun Putih </em>di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 16 Mei 2008. <a href="http://sepanjangbraga.blogspot.com/">Kurnia Effendi</a>, seorang cerpenis dan novelis, tinggal di Jakarta.</p>
<p><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Undang-Undang_Dasar_Republik_Indonesia_1945"> </a></div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sawali.wordpress.com/505/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sawali.wordpress.com/505/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sawali.wordpress.com/505/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sawali.wordpress.com/505/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sawali.wordpress.com/505/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sawali.wordpress.com/505/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sawali.wordpress.com/505/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sawali.wordpress.com/505/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sawali.wordpress.com/505/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sawali.wordpress.com/505/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sawali.wordpress.com/505/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sawali.wordpress.com/505/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sawali.wordpress.com/505/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sawali.wordpress.com/505/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sawali.wordpress.com/505/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sawali.wordpress.com/505/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sawali.wordpress.com&amp;blog=1352708&amp;post=505&amp;subd=sawali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.wordpress.com/2008/08/21/catatan-terhadap-cerpen-cerpen-sawali-tuhusetya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c8cd62cdfc7b8b39c5d23a63e7c2da70?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sawali</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Diskusi Sastra dan Pembacaan Puisi Karya Dharmadi</title>
		<link>http://sawali.wordpress.com/2008/08/20/diskusi-sastra-dan-pembacaan-puisi-karya-dharmadi/</link>
		<comments>http://sawali.wordpress.com/2008/08/20/diskusi-sastra-dan-pembacaan-puisi-karya-dharmadi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Aug 2008 05:40:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[apresiasi puisi]]></category>
		<category><![CDATA[baca puisi]]></category>
		<category><![CDATA[diskusi puisi]]></category>
		<category><![CDATA[diskusi sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.wordpress.com/?p=521</guid>
		<description><![CDATA[Teater Semut Kendal kembali menggelar Diskusi Sastra yang dikemas dalam bentuk pembacaan puisi-puisi karya Dharmadi (penyair dari Purwokerto). Pembacaan puisi akan dilakukan oleh sang penyair dan awak Teater Semut secara teatrekal. Acara tersebut digelar pada: hari, tanggal: Minggu, 24 Agustus 2008 pukul: 09.00 WIB s.d. selesai tempat: Aula Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kab. Kendal, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sawali.wordpress.com&amp;blog=1352708&amp;post=521&amp;subd=sawali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="entry">
<div class="snap_preview">
<p>Teater Semut Kendal kembali menggelar Diskusi Sastra yang dikemas dalam bentuk pembacaan puisi-puisi karya Dharmadi (penyair dari Purwokerto). Pembacaan puisi akan dilakukan oleh sang penyair dan awak Teater Semut secara teatrekal.</p>
<p>Acara tersebut digelar pada:</p>
<p>hari, tanggal: Minggu, 24 Agustus 2008</p>
<p>pukul: 09.00 WIB s.d. selesai</p>
<p>tempat: Aula Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kab. Kendal, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 62 Kendal</p>
<p><strong>Keterangan:</strong></p>
<p><strong>Kontribusi peserta:</strong></p>
<p>a. Guru sebesar Rp30.000,00 perorang (buku, sertifikat, dan kudapan)</p>
<p>b. Pelajar/Umum sebesar Rp15.000,00 perorang (sertifikat dan kudapan)</p>
<p>Pendaftaran dapat dilakukan via kontak person: 081575463844, 085226251543<br />
Usai pentas baca puisi dilanjutkan dengan Diskusi Sastra yang akan mengupas habis tentang penulisan teks puisi secara kreatif. Acara tersebut jelas akan sangat berarti bagi teman-teman sejawat guru Bahasa Indonesia SMP/MTs Kabupaten Kendal dalam upaya memberikan apresiasi sastra kepada sang pengarang sekaligus sebagai bekal menyajikan materi penulisan puisi secara kreatif kepada siswa didik. Segala hal yang berkaitan dengan masalah penulisan puisi akan dikupas habis-habisan oleh sang penulis. Mohon untuk berkenan hadir. Terima kasih.</p>
<p><strong>Salam Budaya,</strong></p>
<p>Sawali Tuhusetya</p></div>
</div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sawali.wordpress.com/521/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sawali.wordpress.com/521/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sawali.wordpress.com/521/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sawali.wordpress.com/521/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sawali.wordpress.com/521/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sawali.wordpress.com/521/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sawali.wordpress.com/521/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sawali.wordpress.com/521/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sawali.wordpress.com/521/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sawali.wordpress.com/521/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sawali.wordpress.com/521/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sawali.wordpress.com/521/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sawali.wordpress.com/521/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sawali.wordpress.com/521/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sawali.wordpress.com/521/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sawali.wordpress.com/521/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sawali.wordpress.com&amp;blog=1352708&amp;post=521&amp;subd=sawali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.wordpress.com/2008/08/20/diskusi-sastra-dan-pembacaan-puisi-karya-dharmadi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c8cd62cdfc7b8b39c5d23a63e7c2da70?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sawali</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pembacaan Cerpen karya Budi Maryono dan Diskusi Sastra</title>
		<link>http://sawali.wordpress.com/2008/07/13/pembacaan-cerpen-karya-budi-maryono-dan-diskusi-sastra/</link>
		<comments>http://sawali.wordpress.com/2008/07/13/pembacaan-cerpen-karya-budi-maryono-dan-diskusi-sastra/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Jul 2008 14:11:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[apresiasi sastra]]></category>
		<category><![CDATA[diskusi sastra]]></category>
		<category><![CDATA[pembelajaran sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.wordpress.com/?p=520</guid>
		<description><![CDATA[Teater Semut Kendal akan menyelenggarakan Diskusi Sastra yang dikemas dalam bentuk pembacaan cerpen karya Budi Maryono (cerpenis dan redaktur Suara Merdeka, Semarang). Pembacaan cerpen akan dilakukan oleh sang cerpenis dan awak Teater Semut secara teatrekal. Acara tersebut digelar pada: hari, tanggal: Minggu, 27 Juli 2008 pukul; 09.00 WIB s.d. selesai tempat: Aula Dinas Tenaga Kerja [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sawali.wordpress.com&amp;blog=1352708&amp;post=520&amp;subd=sawali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Teater Semut Kendal akan menyelenggarakan Diskusi Sastra yang dikemas dalam bentuk pembacaan cerpen karya Budi Maryono (cerpenis dan redaktur Suara Merdeka, Semarang). Pembacaan cerpen akan dilakukan oleh sang cerpenis dan awak Teater Semut secara teatrekal.</p>
<p>Acara tersebut digelar pada:</p>
<p>hari, tanggal: Minggu, 27 Juli 2008</p>
<p>pukul; 09.00 WIB s.d. selesai</p>
<p>tempat: Aula Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kab. Kendal, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 42 Kendal</p>
<p>keterangan:</p>
<p>1. kontribusi peserta Rp50.000,00 perorang</p>
<p>2. peserta mendapatkan sertifikat</p>
<p>3. peserta mendapatkan 1 (satu) buah buku kumpulan cerpen</p>
<p>4. kudapan</p>
<p>Usai pentas baca cerpen dilanjutkan dengan Diskusi Sastra yang akan mengupas habis tentang penulisan teks cerpen secara kreatif. Acara tersebut jelas akan sangat berarti bagi teman-teman sejawat guru Bahasa Indonesia SMP/MTs Kabupaten Kendal dalam upaya memberikan apresiasi sastra kepada sang pengarang sekaligus sebagai bekal menyajikan materi penulisan cerpen secara kreatif kepada siswa didik. Segala hal yang berkaitan dengan masalah penulisan cerpen akan dikupas habis-habisan oleh sang penulis. Mohon untuk berkenan hadir. Terima kasih.</p>
<p><strong>Salam Budaya,</strong></p>
<p>Sawali Tuhusetya</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sawali.wordpress.com/520/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sawali.wordpress.com/520/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sawali.wordpress.com/520/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sawali.wordpress.com/520/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sawali.wordpress.com/520/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sawali.wordpress.com/520/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sawali.wordpress.com/520/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sawali.wordpress.com/520/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sawali.wordpress.com/520/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sawali.wordpress.com/520/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sawali.wordpress.com/520/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sawali.wordpress.com/520/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sawali.wordpress.com/520/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sawali.wordpress.com/520/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sawali.wordpress.com/520/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sawali.wordpress.com/520/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sawali.wordpress.com&amp;blog=1352708&amp;post=520&amp;subd=sawali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.wordpress.com/2008/07/13/pembacaan-cerpen-karya-budi-maryono-dan-diskusi-sastra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c8cd62cdfc7b8b39c5d23a63e7c2da70?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sawali</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kangen Rumah Lama</title>
		<link>http://sawali.wordpress.com/2008/05/29/kangen-rumah-lama/</link>
		<comments>http://sawali.wordpress.com/2008/05/29/kangen-rumah-lama/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 May 2008 17:36:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[silaturahmi]]></category>
		<category><![CDATA[statistik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.wordpress.com/?p=517</guid>
		<description><![CDATA[Tanpa terasa, sudah hampir 5 bulan saya tidak mengurus gubug sederhana ini. Mohon maaf kepada sahabat-sahabat pengunjung yang &#8220;kesasar&#8221; di gubug ini hingga akhirnya kecewa karena tidak pernah muncul tulisan terbaru. Kesibukan *halah sok* mengurus blog Catatan Sawali Tuhusetya agaknya telah membuat saya jadi &#8220;lupa diri&#8221; untuk mengurusnya. Saya mengucapkan terima kasih kepada para pengunjung [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sawali.wordpress.com&amp;blog=1352708&amp;post=517&amp;subd=sawali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Tanpa terasa, sudah hampir 5 bulan saya tidak mengurus gubug sederhana ini. Mohon maaf kepada sahabat-sahabat pengunjung yang &#8220;kesasar&#8221; di gubug ini <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' />  hingga akhirnya kecewa karena tidak pernah muncul tulisan terbaru. Kesibukan *halah sok* mengurus blog <a href="http://sawali.info" target="_blank">Catatan Sawali Tuhusetya</a> agaknya telah membuat saya jadi &#8220;lupa diri&#8221; untuk mengurusnya. Saya mengucapkan terima kasih kepada para pengunjung yang telah berkenan meninggalkan jejak komentar, sekaligus mohon maaf apabila saya tidak sempat merespon.</p>
<p style="text-align:justify;">Gubug ini memang meninggalkan kenangan yang tak bisa saya lupakan. Saat-saat awal ngeblog, di gubug inilah saya sering berteriak.  Meski gubug ini tidak pernah menyajikan sesuatu yang baru sejak 5 Januari 2008, agaknya masih ada juga pengunjung yang berkenan menjenguknya. Iseng-iseng saya melihat statistik blog lewat menu dasbor. Rumah ini rata-rata *halah, narsis* masih dikunjungi sekitar 150-an orang setiap harinya. Berikut ini skrinsyut jumlah pengunjung yang saya ambil pada tanggal 28 Mei 2008 pukul 00.13 WIB dini hari.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-517"></span></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://sawali64.googlepages.com/statistik.gif" target="_blank"><img src="http://sawali64.googlepages.com/statistik.gif" alt="" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Meski saya tinggalkan <span style="text-decoration:line-through;">tanpa rasa tanggung jawab</span>, masih ada juga beberapa teman bloger yang berkenan memberikan trackback. Terima kasih kalau gubug ini masih &#8220;nyaman&#8221; disinggahi. Berikut ini adalah skrinsyut beberapa tautan yang masuk ke rumah ini.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://sawali64.googlepages.com/statistik.gif" target="_blank"><img src="http://sawali64.googlepages.com/satatistik2.gif" alt="" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Saya juga tidak begitu memperhatikan perkembangan blog ini sejak saya tinggalkan. Iseng-iseng melihat statistik dengan memanfaatkan fitur yang disediakan <a href="http://www.allisfun.com/" target="_blank">allisfun</a>, ternyata blog ini sudah mencapai PR 5. Saya tidak begitu paham apa maksudnya. Padahal, blog <a href="http://sawali.info">Catatan Sawali Tuhusetya</a> yang rutin saya update pun baru mencapai PR 4. *halah narsis lagi* Kalau saya perhatikan kata-kata kunci lewat mesin pencari yang &#8220;kesasar&#8221; masuk di blog ini, saya menduga, sebagian besar penjenguk blog ini, paling tidak seorang pendidik atau mereka yang peduli terhadap masalah pendidikan, karena hampir semua kata kunci berkaitan dengan masalah pendidikan. Berikut ini skrinsyutnya.</p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter" src="http://sawali64.googlepages.com/statistik3.gif" alt="" width="480" height="343" /></p>
<p style="text-align:justify;">Selain itu, juga bisa dilihat berdasarkan tulisan teratas yang ada di bar samping. Hampir semua tulisan yang kerap dibaca berkaitan dengan masalah pendidikan, antara lain:</p>
<ol>
<li><a href="../2007/10/15/membudayakan-cinta-lingkungan-hidup-melalui-dunia-pendidikan/">Membudayakan Cinta Lingkungan Hidup melalui Dunia Pendidikan</a></li>
<li><a href="../2007/07/15/mampukah-sertifikasi-guru-mendongkrak-mutu-pendidikan/">MAMPUKAH SERTIFIKASI GURU MENDONGKRAK MUTU PENDIDIKAN?</a></li>
<li><a href="../2007/09/17/download-terbaru-panduan-sertifikasi-guru-dan-lessson-study/">Download Terbaru: Panduan Sertifikasi Guru dan Lesson Study</a></li>
<li><a href="../2007/07/15/latar-belakang-sertifikasi/">Latar Belakang Sertifikasi </a></li>
<li><a href="../2007/10/18/mengapa-pamor-guru-meredup/">Mengapa Pamor Guru Meredup?</a></li>
<li><a href="../2007/12/30/diskusi-kelompok-terbimbing-model-tutor-sebaya/">Diskusi Kelompok Terbimbing Model Tutor Sebaya</a></li>
<li><a href="../download/">Unduh</a></li>
<li><a href="../2007/08/20/reformasi-sekolah-kepemimpinan-feodalistis-dan-ktsp/">Reformasi Sekolah, Kepemimpinan Feodalistis, dan KTSP</a></li>
<li><a href="../2008/01/03/blog-guru/">Blog Guru</a></li>
<li><a href="../2007/07/15/inovasi-pembelajaran/">Inovasi Pembelajaran</a></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Siapa pun yang berkenan berkunjung di gubug ini, mereka adalah tamu-tamu terhormat. Merekalah yang telah membuat blog ini menjadi lebih bermakna. Sekali lagi, mohon maaf apabila komentar-komentar yang masuk di blog ini luput dari respon saya. Blog ini juga terbuka  untuk dikunjungi siapa saja selama Mr. Matt masih berkenan menampungnya. Silakan berselancar dan iseng bermain di gubug sederhana ini. Semoga pada kesempatan lain, saya masih punya waktu juga untuk meng-update tulisan di blog ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Nah, salam budaya!</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sawali.wordpress.com/517/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sawali.wordpress.com/517/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sawali.wordpress.com/517/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sawali.wordpress.com/517/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sawali.wordpress.com/517/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sawali.wordpress.com/517/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sawali.wordpress.com/517/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sawali.wordpress.com/517/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sawali.wordpress.com/517/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sawali.wordpress.com/517/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sawali.wordpress.com/517/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sawali.wordpress.com/517/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sawali.wordpress.com/517/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sawali.wordpress.com/517/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sawali.wordpress.com/517/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sawali.wordpress.com/517/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sawali.wordpress.com&amp;blog=1352708&amp;post=517&amp;subd=sawali&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.wordpress.com/2008/05/29/kangen-rumah-lama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c8cd62cdfc7b8b39c5d23a63e7c2da70?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sawali</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sawali64.googlepages.com/statistik.gif" medium="image" />

		<media:content url="http://sawali64.googlepages.com/satatistik2.gif" medium="image" />

		<media:content url="http://sawali64.googlepages.com/statistik3.gif" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
