13 Juli 2008 oleh Sawali Tuhusetya
Teater Semut Kendal akan menyelenggarakan Diskusi Sastra yang dikemas dalam bentuk pembacaan cerpen karya Budi Maryono (cerpenis dan redaktur Suara Merdeka, Semarang). Pembacaan cerpen akan dilakukan oleh sang cerpenis dan awak Teater Semut secara teatrekal.
Acara tersebut digelar pada:
hari, tanggal: Minggu, 27 Juli 2008
pukul; 09.00 WIB s.d. selesai
tempat: Aula Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kab. Kendal, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 42 Kendal
keterangan:
1. kontribusi peserta Rp50.000,00 perorang
2. peserta mendapatkan sertifikat
3. peserta mendapatkan 1 (satu) buah buku kumpulan cerpen
4. kudapan
Usai pentas baca cerpen dilanjutkan dengan Diskusi Sastra yang akan mengupas habis tentang penulisan teks cerpen secara kreatif. Acara tersebut jelas akan sangat berarti bagi teman-teman sejawat guru Bahasa Indonesia SMP/MTs Kabupaten Kendal dalam upaya memberikan apresiasi sastra kepada sang pengarang sekaligus sebagai bekal menyajikan materi penulisan cerpen secara kreatif kepada siswa didik. Segala hal yang berkaitan dengan masalah penulisan cerpen akan dikupas habis-habisan oleh sang penulis. Mohon untuk berkenan hadir. Terima kasih.
Salam Budaya,
Sawali Tuhusetya
Ditulis dalam Opini, Pendidikan, Refleksi, Sastra | yang berkaitan apresiasi sastra, diskusi sastra, pembelajaran sastra | 2 Komentar »
29 Mei 2008 oleh Sawali Tuhusetya
Tanpa terasa, sudah hampir 5 bulan saya tidak mengurus gubug sederhana ini. Mohon maaf kepada sahabat-sahabat pengunjung yang “kesasar” di gubug ini
hingga akhirnya kecewa karena tidak pernah muncul tulisan terbaru. Kesibukan *halah sok* mengurus blog Catatan Sawali Tuhusetya agaknya telah membuat saya jadi “lupa diri” untuk mengurusnya. Saya mengucapkan terima kasih kepada para pengunjung yang telah berkenan meninggalkan jejak komentar, sekaligus mohon maaf apabila saya tidak sempat merespon.
Gubug ini memang meninggalkan kenangan yang tak bisa saya lupakan. Saat-saat awal ngeblog, di gubug inilah saya sering berteriak. Meski gubug ini tidak pernah menyajikan sesuatu yang baru sejak 5 Januari 2008, agaknya masih ada juga pengunjung yang berkenan menjenguknya. Iseng-iseng saya melihat statistik blog lewat menu dasbor. Rumah ini rata-rata *halah, narsis* masih dikunjungi sekitar 150-an orang setiap harinya. Berikut ini skrinsyut jumlah pengunjung yang saya ambil pada tanggal 28 Mei 2008 pukul 00.13 WIB dini hari.
Lanjut Baca »
Ditulis dalam Artikel, Opini, Pendidikan, Refleksi | yang berkaitan blog, guru, silaturahmi, statistik | 7 Komentar »
10 Februari 2008 oleh Sawali Tuhusetya
Rekan-rekan sejawat dan pengunjung yang ingin mengikuti tulisan saya, silakan kunjungi Blog Catatan Sawali Tuhusetya. Blog “Jalur Lurus” sudah tidak saya update sejak 5 Januari 2008. Rekan-rekan yang ingin tukar link, silakan ganti link saya yang baru: http://sawali.info/
Terima kasih dan salam budaya,
Sawali Tuhusetya
Ditulis dalam Opini | 3 Komentar »
5 Januari 2008 oleh Sawali Tuhusetya
Teman-teman bloger yang saya hormati,
Mulai 5 Januari 2008, saya pindah rumah di sini.

*Terima kasih kepada Bung Militis yang telah berkenan membuatkan saya sebuah header keren di Jalur Lurus yang kemudian saya adopsi sebagai chiklet di Catatan Sawali Tuhusetya*
Saya ingin sedikit bercerita. Jujur saja. Selama ini saya mempunyai dua istri blog yang rutin saya sambangi update, yakni Jalur Lurus dan Catatan sawali Tuhusetya. Dua-duanya menarik dan mampu merangsang adrenalin saya untuk menulis. Tapi, saya sering bersikap tidak adil, bahkan sering bingung. Setiap kali dapat rezeki postingan baru, saya justru bingung. Harus memberikannya kepada siapa? Sementara untuk terus produktif memburu rezeki postingan yang baru, otak dan tenaga sudah loyo. Akhirnya, saya ambil jalan pintas. Postingan saya itu saya muat di blog dua-duanya. Itulah yang menggelisahkan batin saya. Atas pertimbangan beberapa teman, saya disarankan untuk fokus pada istri blog yang baru. *halah*
Lanjut Baca »
Ditulis dalam Pendidikan, Refleksi, sosial | yang berkaitan blog baru | 55 Komentar »
4 Januari 2008 oleh Sawali Tuhusetya
Tulisan supersingkat ini masih berkaitan dengan postingan sebelumnya. Jumlah guru yang terdaftar di Jardiknas hingga saat ini mencapai 1.293.758 orang. Terinspirasi oleh postingan Ndoro Kakung, saya iseng bertanya. Singkat saja, “Apa yang akan terjadi dengan dunia pendidikan kita kalau setiap guru sudah punya blog?” ***
Ditulis dalam Pendidikan, Refleksi | yang berkaitan blog guru | 47 Komentar »
3 Januari 2008 oleh Sawali Tuhusetya
Ini postingan pertama pasca-2007. Tiba-tiba saja saya terusik untuk mengangkat blog guru sebagai topik. Maklum, memasuki liburan semester I ini banyak waktu luang yang bisa saya gunakan untuk memuaskan syahwat hasrat bercinta berselancar dengan kekasih blog saya di dunia maya. *halah* “Kayak ndak ada kerjaan ajah!”, ujar Mas Mbelgedez, hehehehe
Ya, ya, ya, setelah hampir 6 bulan lamanya bersikutat dengan rutinitas di sekolah, para guru diberi kesempatan untuk libur. Mungkin setiap daerah beda-beda, yak. Sudah otonomi kok. Jadi, terserah kebijakan Pemda/Pemkot masing-masing. Untuk daerah saya (Kendal), sekitar 2 minggu, para guru bisa menghirup udara bebas di luar tembok sekolah. *halah* 14 Januari nanti baru kembali mencium aroma silabus, RPP, agenda mengajar, buku teks, daftar nilai, dan setumpuk tugas sampingan lainnya di sekolah.
Lanjut Baca »
Ditulis dalam Artikel, Budaya, Opini, Pendidikan, Refleksi, sosial | yang berkaitan blog guru, karier, kenaikan pangkat | 55 Komentar »
31 Desember 2007 oleh Sawali Tuhusetya
Ketika banyak orang tenggelam dalam kesibukan menyiapkan “pesta” pergantian tahun, 18 “cantrik” dari “Padepokan” STESA (Studi Teater dan Sastra) Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kendal justru “menyepi” di “Pertapaan” Cokrokembang, Desa Mentosari, Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Ke-18 cantrik yang digembleng di bawah kharisma “Resi” Aslam Kussatyo itu mulai “bertapa” sejak Sabtu, 29 Desember hingga Senin, 31 Desember 2007. Ada banyak “jurus” yang hendak diasah dalam “kawah candradimuka” itu, seperti manajemen pertunjukan, imajinasi, refleksi diri, olah tubuh, pernapasan dan vokal, penyutradaraan, keaktoran, make-up, artistik, kepekaan indera, improvisasi gerak dan kata, penciptaan, dan penyajian.
Ya, para “cantrik” itu adalah beberapa gelintir anak muda yang telah berniat memilih dunia sastra dan teater sebagai bagian dari “panggilan” hidup. Sebuah dunia yang (nyaris) tidak banyak diminati oleh anak-anak muda di tengah-tengah gencarnya gerusan nilai materialisme, konsumtivisme, dan hedonisme. Di bawah gemblengan Aslam Kussatyo, dedengkot teater Kota Kendal, mereka sengaja mengisolir diri menjelang pergantian tahun untuk melakukan refleksi, berimajinasi, mengolah daya cipta, dan berlatih jurus-jurus bermain teater.
Lanjut Baca »
Ditulis dalam Artikel, Bahasa, Budaya, Cerpen, Esai, Opini, Pendidikan, Refleksi, Sastra, moral, multikultur, sosial, tradisi | yang berkaitan kreativitas, penulisan, teater | 31 Komentar »
30 Desember 2007 oleh Sawali Tuhusetya
Rendahnya mutu pendidikan Indonesia telah banyak disadari oleh berbagai pihak, terutama oleh para pemerhati pendidikan di Indonesia. Rendahnya mutu pendidikan ini dapat dilihat, antara lain, dari rendahnya rata-rata nilai Ujian Nasional (UN) untuk semua bidang studi yang di-UN-kan, baik di tingkat nasional maupun daerah.
Berdasarkan kenyataan tersebut perlu ada upaya serius untuk meningkatkan nilai UN agar anak-anak bangsa yang kini tengah gencar menimba ilmu di bangku pendidikan benar-benar dalam kondisi siap untuk menghadapi UN. Para siswa didik, khususnya kelas IX, harus diberikan bekal yang cukup memadai sehingga mampu mengerjakan soal-soal UN dengan baik.
Banyak faktor yang menyebabkan rendahnya nilai UN yang dicapai oleh SMP. Pertama, kurangnya motivasi siswa didik untuk meraih nilai akademis yang tinggi. Hal itu disebabkan oleh situasi dan kondisi pendidikan dalam lingkungan keluarga yang kurang mendukung.
Lanjut Baca »
Ditulis dalam Artikel, Bahasa, Opini, Pendidikan, Refleksi | yang berkaitan bahasa Indonesia, metode pembelajaran, ujian nasiona | 21 Komentar »
29 Desember 2007 oleh Sawali Tuhusetya
Dalam tulisan saya mengenai “Tiga Bahasa Plesetan tentang KTSP“, saya memplesetkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menjadi: (1) Kurikulum Tidak Siap Pakai, (2) Kurikulum Tetap Sama Produknya, dan (3) Kalau Tidak Siap Pensiun. Namanya saja plesetan, selain “nyleneh” juga bernada slengekan, hehehehe
Agaknya, ada seorang pengunjung yang terusik. Dia berkomentar:
pak jgn buat plesetan yg tdk mendidik, maka dukunglah tetang KTSP tersebut ok makasih ya.
Saya sangat menghargai komentar pengunjung tersebut. Ini artinya, kurikulum pendidikan kita masih mendapatkan sentuhan perhatian yang cukup dari publik. Lalu, saya meresponnya dengan pernyataan bahwa saya hanya merekam dan memberikan kesaksian terhadap apa yang saya lihat dan saya dengar. Namanya juga otokritik. Dunia pendidikan kita harus selalu siap untuk menerima kritik dari berbagai kalangan agar terus berkembang secara dinamis sehingga mutu pendidikan yang sudah lama didambakan dapat terwujud.
Lanjut Baca »
Ditulis dalam Artikel, Opini, Pendidikan, Refleksi, moral, multikultur, politik | yang berkaitan akhir tahun, kurikulum, plesetan | 31 Komentar »
26 Desember 2007 oleh Sawali Tuhusetya

Selamat Hari Natal kepada saudara-saudara yang merayakannya, semoga mampu membawa suasana damai dan penuh cinta kasih. Selamat Tahun Baru 2008 juga kepada sahabat-sahabat yang kebetulan singgah atau sekadar mampir di blog ini. Semoga tahun 2007 memberikan jejak-jejak sejarah yang bermakna dalam menggapai harapan dan impian pada tahun 2008. Semoga sukses berpihak kepada kita semuanya, amiin. ***
————–
Gambar “dicuri” dari sini.
Ditulis dalam Refleksi | yang berkaitan natal dan tahun baru | 37 Komentar »
24 Desember 2007 oleh Sawali Tuhusetya
Cerpen: Sawali Tuhusetya
Warni tercenung di kamarnya. Dadanya tiba-tiba sesak. Benaknya jatuh ke tempat yang jauh. Ia rindu Emak, Bapak, dan adik lelaki satu-satunya di tanah Jawa, yang sudah hampir sepuluh tahun ditinggalkannya. Kenekadan Warni untuk menerima tugas sebagai guru di luar Jawa seakan bebar-benar telah memutuskan hubungan darah dengan keluarganya. Ia sudah berkali-kali mencoba mengirim surat ke Jawa, tapi belum pernah sekali pun mendapatkan balasan. Warni tidak tahu, apakah surat yang dikirim memang tidak pernah sampai ke alamat yang dituju atau surat itu sampai ke tangan keluarganya, tapi sengaja tidak dibalas, yang bisa diartikan ia sudah tidak lagi dianggap sebagai anggota keluarga.
“Kamu hanya perempuan, Warni. Buat apa jauh-jauh meninggalkan kampung halaman hanya untuk memburu duit? Tanpa harus bekerja pun ayah sanggup menanggung hidupmu, bahkan sampai kelak kamu hidup berumah tangga!” kata-kata ayahnya menari-nari di lorong ingatannya.
Lanjut Baca »
Ditulis dalam Budaya, Cerpen, Pendidikan, Refleksi, Sastra, moral, multikultur, sosial | yang berkaitan Cerpen, patriarkhi, perempuan | 39 Komentar »
Older Posts »